Menjadi Konsumen Pintar

Menjadi Konsumen Pintar

Setidaknya lebih pintar 4 min read

Gue tipe orang yang konsumtif, dan gue rasa hampir setiap orang juga konsumtif. Bedanya, ada yang melakukan proses konsumsi karena memang benar-benar butuh, atau yang enggak butuh butuh amat.

Konsumtif + Produktif ~= Worth

Prinsip gue dalam mengkonsumsi sesuatu adalah tentang hasil yang gue dapat dari proses konsumsi tersebut. Singkatnya, minimal, konsumtif harus berbanding lurus dengan produktif. Gue gak bakal ngobrolin seputar kesehatan karena gue bukan tipe orang yang sehat.

Misal gini, apa yang gue dapat setelah membeli kopi 24rb, dessert 26rb dan duduk berjam-jam di warkop/kafe? 3 tulisan baru? 6 task resolved? Dsb? Apakah pengeluaran 50rb + pajak tersebut worth dengan apa yang sudah gue lakukan?

Selagi produktif, gue akan memaafkan diri gue yang konsumtif ini.

Cashback

Gue bukan tipe orang yang gila cashback, tapi akhir-akhir ini enjoy dengan menggunakan cashback. Intinya Cashback gue anggep sebagai "thank you" dari suatu layanan, karena telah menggunakan layanan tersebut. Ambil contoh kalau gue mendapatkan cashback 20% bila transaksi menggunakan Gopay, Gopay ngasih gue 10rb sebagai "tanda terima kasih" karena telah menggunakan Gopay untuk transaksi sekitar 50rb.

Take my money, Gopay. Use my saving.

Cashback bukanlah hal yang permanent, namun selagi masih ada "program" atau promo cashback, kenapa tidak dinikmati?

Health?

Oke oke gue cuma membicarakan tentang Output tanpa membicarakan tentang Effect. Dan inilah alasan mengapa gue memilih kata "pintar" daripada "cerdas". Kalau lo cerdas, pasti lo mempertimbangkan beberapa hal juga. Sebagai contoh––biar keliatan pinter––faktor kesehatan, ekonomi negara, dunia ketiga, dsb.

Oke oke berlebihan, mari kita persingkat ke kesehatan. Ya, meskipun kopi 24rb kita anggap worth dengan 2 tulisan baru, 3 task resolved, dan 1 client invoice, namun apakah "efek" yang ada di kopi tersebut worth terhadap diri lo? Misal, efek kafein? Gula? Dsb dsb.

"Percuma" (sengaja gue tegaskan) misal apa yang kita hasilkan tersebut menyebabkan hal lain (jatuh sakit misalnya). Sejujurnya, gue enggak terlalu peduli terhadap masalah kesehatan. Ingat, "tidak terlalu" bukan berarti tidak, ya.

Setiap hari gue berurusan dengan hal yang tidak sehat, baik langsung (merokok) maupun tidak langsung (you name it). Jadi, untuk apa membicarakan tentang "buruknya neraka" misalnya kalau kita "sedang tinggal" di neraka? Contoh aja, walau contohnya rada keji.

Kalau lo hidup sehat by design, faktor tersebut mungkin harus dipertimbangkan. Untuk hari ini, atau untuk hari yang akan datang. Apalah aku yang tidak sehat ini meskipun selalu bermimpi untuk bisa hidup sehat.

Terukur

Hal terakhir yang ingin gue bahas adalah harus terukur. Kalau gue bisa mengukur apakah "layak" 50rb something + duduk berjam-jam di warkop/kafe perhari dengan apa yang gue hasilkan, harusnya gue bisa mengukur hal lain juga. Pengeluaran tiap bulan untuk itu misalnya.

Sebagai bocoran, gue ada dana khusus untuk "konsumsi" 750rb per-bulan untuk rokok (klo gak gue beliin rokok, bisa jadi tabungan 9jt per-tahun!), ngopi 800rb perbulan. Alias 1,55jt per-bulan, sekian persen dari gaji pokok (< ~30%). Itu murni untuk dana konsumtif pangan gue aja ya, belum yang tipe nya yang lain seperti server, spotifay, dsb.

Gue menggunakan metode zero budget, yang mana pemasukan + pengeluaran = 0. Pengeluaran ini banyak macemnya, nabung dan investasi pun termasuk pengeluaran. Pemasukan juga banyak macemnya, tapi disini gue ambil dari gaji utama gue (sekarang cuma ngefreelance dan ngasih konsultasi kecil-kecilan aja).

Pengeluaran pun mostly ke perilaku konsumtif pangan, entertainment, evilfactorylabs, traveling, dan self-improvement. Gue sekarang sejujurnya belum ada rencana buat ngelakukan "investasi" lagi (seperti bareksa, emas, dsb) karena gue rasa (dan yakin) "investasi" yang worth untuk gue adalah investasi ke evilfactorylabs beserta orang didalamnya.

That's it!

Gue cuma mau berbagi yang intinya cuma tentang bagaimana agar memaknai perilaku konsumtif yang minimal harus berbanding lurus dengan produktif (efektif). Tentang bagaimana memaknai dan "menikmati" cashback, tentang bagaimana cara agar membuat proses konsumtif tersebut efisien (terukur).

Produktif pun harus diukur, apakah sesuatu yang "dihasilkan" tersebut worth atau tidak dengan apa yang telah dikeluarkan. Selama ini gue masih ngukur nya secara manual (via Notes di laptop), dan mengecek pengeluaran nya paling via log Jenius, Gopay, dan aplikasi Upnormal.

Gue dan teman-teman sedang mengembangkan aplikasi Nadya, yang mana semoga bisa mempermudah proses tersebut (merencanakan, mengatur, dan mengukur keuangan) agar lebih efektif, efisien dan fun.


Gue menjadi sedikit peduli seputar keuangan setelah gue sadar tentang pentingnya mengatur keuangan sejak dini. Gue enggak pernah dapet pelajaran khusus seputar itu baik di SD, SMP, SMA, sampai ke bangku perkuliahan. Di pesantren pun tidak diajarkan secara langsung.

Ketika merantau (wew cuma beda provinsi), sedikit demi sedikit pengalaman mengajarkan gue tentang itu. Dan gue yakin "ilmu" itu akan terus bisa digunakan sampai kapanpun. Gue gak ada hak khusus untuk mengajari orang-orang seputar keuangan, namun gue dan teman-teman memiliki hak untuk bagaimana mengedukasi orang-orang seputar itu secara informal. Via aplikasi salah satunya.

Meskipun mungkin beda secara teoritis, semoga apa yang kita kerjakan tidak melenceng dari esensi "the teoritis" tersebut sehingga tidak mengedukasi hal yang salah. Seperti, JavaScript is asynchronous, but we use async/await or Promise to achieve synchronous-thing. Meskipun secara teori beda, namun kita tidak melenceng dari esensi yang ada pada teori tersebut (JavaScript is non-blocking I/O).

Thanks for stopping by, have a good rest!