Imposter Syndrome

Published 2 Feb 2019 ☕️ 9 min read

Tiba-tiba keingin menulis tentang ini.

Imposter Syndrome menurut sepengetahuan gue adalah kondisi dimana kita tidak lebih baik dari orang lain. Merasa tertipu, merasa bahwa sesuatu yang kita kerjakan/raih tersebut berdasarkan dari “keajaiban” atau “keberuntungan”. Itu berdasarkan sepengetahuan gue ya, silahkan cari sendiri definisi yang lebih lengkap & jelasnya.

Oke oke, let me tell you a bit about me.

Kita mulai dari personality, ya. Menurut teman-teman gue, gue orangnya Extrovert. Dan menurut gue, gue orangnya Introvert. Bisa gue simpulkan bahwa gue seorang yang Ambivert, dengan kecendrungan ke Introvert. Gue suka dengan kesunyian; ketenangan, dan kesendiran. Disamping itu, gue juga benci dengan ketiga kondisi tersebut, dan selalu mencoba untuk menghindarinya pada masa-masa tertentu (out of office hours for example). Got it?

Gue tipe orang yang percaya Done is better than perfect, yang bisa kalian simpulkan bahwa gue bukan tipe orang yang perfeksionis. Gue percaya bahwa semua proses tidak akan pernah selesai, terlebih dikarir gue sebagai seorang pengembang piranti lunak.

Nah, rata-rata orang yang merasakan Imposter Syndrome ini adalah orang-orang yang perfeksionis, sekali lagi “menurut gue”. Selalu merasa tidak cukup/sempurna. Dan ini yang sepertinya bahaya, dan TBH gue pernah merasakan kondisi ini ketika awal-awal menjadi seorang Profesional Frontend Engineer.

Merasa tidak pantas

Ketika gue “seperti” mengalami Imposter Syndrome, gue selalu merasa tidak pantas, dalam bentuk apapun. Misal, dikerjaan. Kayaknya gue enggak pantes deh kerja disini, Kayaknya gue enggak pantes deh dapet gaji segini, dan lain-lain. Dan karena kata “enggak pantes” ini, berarti ada sesuatu yang menjadi “bandingan” terhadap kita. Coworker, teman komunitas, dan lain sebagainya.

Tenang.

Everything is okay, you are doing it right. Masa bosmu nge-gaji kamu n jt/bln karena kinerja kamu buruk? Masa bosmu nge-hire kamu/tetap mempertahankan kamu diperusahaan karena iseng aja bukan karena kinerja kamu? Gak mungkin, kan? Sebenarnya rasa tidak pantas ini baik juga, jadi kita bisa selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. SAYANGNYA, ini seperti pisau bermata dua.

Bagaimana bila kondisi tersebut malah menjadi sesuatu yang negatif kepada diri kita?

“Ah gak pantes gue ngerjain ini, ilmu gue masih kurang cukup. Mending hire orang lain lagi aja deh”

“Ah gak pantes gue ngerjain ini, kerja gue lambat. Mending si X yang kerjanya cepet dan hasilnya lebih keren“.

Come on ladies and gentleman, keep calm. Buang jauh-jauh stigma seperti itu. Daripada dipikirin, mending dijadikan motivasi untuk sesuatu yang lebih positif. Kalau merasa ilmu kurang cukup, berarti tau kan apa yang harus dilakukan? Begitu juga dengan ketika merasa mobilitasnya lambat.

Iya, ini basi. Tapi serius, itulah yang gue lakukan. Intinya, sesuatu yang “berlebihan” itu kurang baik. Kita memikirkan tentang kondisi diatas ya gapapa, salahnya kalau kita “terlalu memikirkan”.

Merasa kurang pintar

Nah ini yang paling populer, selalu merasa kurang pintar dari orang lain. Bahasa kasarnya selalu merasa lebih goblok dari orang lain. Merasa orang lain lebih memiliki pengetahuan dari kita. This is a trap, fucking trap.

Gue males embed chart tentang “pengetahuan yang kita tau, pengetahuan yang orang lain tau, dan kenyataan tentang apa yang kita & orang lain tau”. Silahkan cari sendiri di Internet.

Intinya, merasa bodoh gak apa-apa. Sekali lagi, yang salah itu kalau terlalu merasa bodoh sehingga menjadi sesuatu yang negatif untuk kita. Contohnya gini, kita segan diskusi dengan si A, karena kita tau kalau si A tersebut orangnya pintar. Jadi, kita seperti “merasa bodoh” kalau diskusi dengan dia.

Salah, man. Enggak perlu difikirkan, lah.

Ada orang di telegram yang ngajak diskusi dengan gue tentang Frontend Development, ceritanya wannabe frontend developer gitu, freshgrads. Gobloknya, duh sorry nih nulis goblok, dia malah bilang “malu kang pengen nanya-nayanya”. Ih kesel gak sih. Dia malu karena dia lebih tua dari gue, sedangkan ilmunya “katanya” lebih keren gue daripada dia.

Oke kita boleh seperti itu, misal menghormati yang tua dan menyayangi dan muda. Tapi dunia enggak berjalan sesempurna itu, gan. Hukum alam berlaku. Mau tua mau muda, kalau lemah ya bakal kelindas. Gak usahlah bawa-bawa umur sebagai parameter disini, cukup ilmu saja. Kalau sadar bahwa ilmu kita belum cukup, ya terus belajar. Bukan malah malu.

Like what I did.

Banyak yang bilang kalau gue keliatan pintar karena sering share di blog & medium. Dan itu trik gue. “Pintar” hanyalah masalah pandangan orang lain ke gue, pandangan gue ke gue, gue selalu merasa tidak pintar dan harus terus belajar. Maka dari itu, untuk membangun brand gue sendiri agar “terlihat” pintar, gue membagikan apa yang sudah gue pelajari.

Kalau ternyaya apa yang gue bagikan salah? Ya berterima kasihlah kepada yang mengkoreksi. Bila kita “tau” bahwa kita salahnya dari kita sendiri, ya berterima kasihlah kepada diri sendiri karena telah terus belajar.

Merasa tidak baik

Hadeeeh.

Pattern

Kalian sadar enggak sih dari 3 “Merasa” diatas, ada pola yang membuat kondisi tersebut terjadi: Membandingkan & “Terlalu”. Dan kalian pasti sudah tau caranya bagaimana untuk menghindari kondisi diatas dengan cara menghindari pola tersebut, yakan?

Nobody cares with you

Gue selalu menanamkan kepada diri gue bahwa tidak ada yang peduli dengan gue. Gue nulis ginian, gue merasa gak ada yang peduli. Gue ngetweet apapun, gue merasa gak ada yang peduli juga (kalau twit gue apus, biasanya untuk memenuhi kecantikan jumlah twit hahaha).

Bahkan kalo lu lagi dihutan sekalipun, gak akan ada yang peduli lu lagi sekarat apa kagak.

Gimana kalau ternyata ada yang peduli? Itu indahnya. Bonusnya. Berharap tidak dapat apa-apa ternyata mendapatkan apa-apa lebih indah, kan? Daripada berharap dapat apa-apa nyatanya tidak dapat apa-apa.

Dan disini kemampuan “Self improvement” kita dilatih. Ketika kita merasa tidak peduli, kita jadi tidak memiliki parameter akan sesuatu yang kita kerjakan. Gak perlu berharap orang lain akan menghabiskan energinya untuk membuat anda menjadi lebih baik, tapi lu sendiri yang harus melakukannya.

Dan sekali lagi, jika memang “orang lain” tersebut ada, itu bonus. Berterima kasihlah, kepada tuhan; Diri sendiri, dan orang lain tersebut.

Pengembangan diri ini susah-susah-gampang, akan menjadi lebih mudah bila kita sudah terbiasa melakukannya.

Jangan terlalu membanding-bandingkan

Ini yang sudah gue singgung tapi ingin gue bahas. Ngapain sih ngebanding-bandingin diri sendiri dengan orang lain? Seperti tidak ada pekerjaan yang lebih penting dari itu. Oke, orang lain pintar; Tajir, rajin solat, rajin menabung, sukak naik gunung, lalu kenapa?

Gak ada yang bisa dibanggakan? Bagaimana bila membanggakan diri anda bahwa anda adalah orang yang goblok; Miskin, jarang solat, gak suka nabung, anti naik gunung?

Gak mau, kan?

Nah, daripada gitu, mending ngebenah diri. Kalau merasa seperti, dan merasa apa yang kalian rasakan itu buruk, maka ubahlah menjadi ke arah yang positif. Gak perlu jadi pintar lah, sedikit lebih pintar juga sudah menjadi proses untuk menjadi pintar kok. Gak perlu tajir, berkecukupan juga sudah lebih baik dari sebelum-sebelumnya kok. Gak perlu harus langsung rajin menabung & rajin solat, bisa menyisihkan sekian rupiah & tidak meninggalkan solat dalam 5 waktu pun gue rasa sudah menjadi langkah yang benar.

Daripada cuma ngebanding-bandingin?

Daripada gak ada perubahan apa-apa?

Gak suka naik gunung? Yaudah gak apa-apa. Apa hobi lu yang kira-kira menurut lu lebih keren dari naik gunung?

Naik pesawat, misalnya?

Jadilah diri sendiri

Oh, man.

Bullshit.

Bullshit.

Bullshit.

Omong kosong jadilah diri sendiri ini! Tapi serius, jadilah diri sendiri berdasarkan diri kita sendiri. Kenapa gue bilang omong kosong?

Banyak yang menganggap bahwa:

  • Asilnya gue suka ngomong kasar, eh ternyata sok-sok ngomong halus
  • Aslinya jarang nabung tapi ternyata sok-sok nabung
  • Dan berbagai aslinya yang dilanjutkan dengan ternyata

Yang berarti “Waah gak jadi diri sendiri dong, lu!“. Oh enggak gitu sayang cara kerjanya. Jika kita orang yang boros, dan kita sadar bahwa kita boros, lalu kita ingin menjadi hemat, itu tetap diri lu sendiri. Lu yang mau, tidak di-stir oleh siapapun.

Tidak menjadi diri sendiri itu—sekali lagi, menurut gue—ketika kita melakukan sesuatu karena ingin dianggap sebagai orang lain.

Pengen pinter kek si Fariz ah biar banyak yang sukaaa

Pengen ganteng kek si Fariz ah biar si doi suka juga sama gue

Dan lain-lain. Itu yang bukan menjadi diri sendiri, tapi menjadi si Fariz. DAAAAAN patternya sama, membandingkan! Lu mutusin cewek lu karena cewek lu bertingkah laku X daripada Z? Gpp. Bukankah katanya Cinta itu saling melengkapi? Yang salah, ketika kita memaksa cewek tersebut untuk berubah. Kamu goblok, aku gak suka. Mending kita putus. Anjaay, apalagi kalau misalnya seperti ini: Kamu goblok, gak kayak si X yang pinter. Mending kita putus. Ngebanding-bandingkan, kan? Yang pertama membandingkan dengan “Seseorang yang kita harapkan sifatnya”, yang kedua membandingkan dengan “Seseorang yang memiliki sifat yang kita harapkan”.

Harusnya, lu berdua bisa menjadi lebih baik bersama. Saling mengerti kekurangan sama lain, dan memperbaikinya. Jika tau kalau cewek lu goblok, dan lu gak mau cewek lu goblok karena selain “belajar adalah kewajiban” juga karena akan menjadi tauladan untuk anak-anak lu nanti (huhuy), maka bimbinglah dia agar sadar. Agar bisa mengerti bahwa belajar adalah kewajiban. Bahwa goblok itu sesuatu yang harus dihindari (kasar amat yak bahasanya goblok hahaha).

Dengan begitu, terciptalah “dia yang baru”. Dia yang tetap seperti dia, namun lebih pintar. Bukankah kita menilai seseorang seringnya karena keburukannya daripada kelebihannya, kan? Iiiih sekarang pinter ya, enggak kayak dulu, IIh sekarang sering ke masjid deh, gak kayak dulu. Dsb. Membandingkan. Namun, mereka tetap mengenal siapa lu. Dan lu, berubah karena keinginan sendiri, bukan karena orang lain. Berubah, agar menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan menjadi pribadi orang lain yang baik.

Pegel juga gue ngetik sampai paragraf ini.

Ngerasa dah kek motivator dah


Berhenti berhayal, kembali ke topik. Imposter Syndrome seperti pisau bermata dua. Tinggal kamu yang menghadapinya bagaimana. Dan gue sudah menjabarkan tentang bagaimana gue menghadapinya ketika gue merasakannya berdasarkan pengalaman gue.

Keep calm, everything is okay. Love yourself, proud of yourself. Nobody did it, including me. So, just do it by yourself.

And give a thanks to someone who was did it for you, including me. Cukuplah dalam berminta maaf, sesuatu yang sudah terjadi tidak akan berubah bila kita terus berminta maaf daripada memperbaikinya. Sorry for the bad vibes.

Ya, gak ada yang peduli juga, kan dengan bad vibes yang tadi gue sorry kan? Ngapain juga harus minta maaf bila ternyata tidak ada “Bad vibes” disini? Kalau ada? Carilah sendiri letak kesalahannya dimana, pelajari bagaimana cara menyebarkan getaran yang positif daripada yang negatif. Dan sekali lagi, berterima kasihlah bila ada orang lain yang membantunya, seperti memberitau letak kesalahanmu.

Love you guys, learn more about me deeper.

Okok, learn more about you deeper, seharusnya. Paragraf diatas hanya friendly-reminder in case you want to learn more about me. And yes, I do care with you. And I don’t care are you want to learn more about me or won’t.

Enjoy your weekend.