Ingrid Michaelson - You and I

Published 7 Feb 2019 ☕️ 7 min read

“Oh, let’s get rich and buy our parents.

Homes in the South of France.

Let’s get rich and give everybody nice sweaters.

And teach them how to dance.

Let’s get rich and build our house on a mountain.

Making everybody look like ants.

From way up there, you and I, you and I”.

Penggalan lirik diatas merupakan reff dari lagu You and I nya Ingrid Michaelson. Lagunya mungkin lumayan udah lama, sekitar tahun 2008-an. Tapi gue seneng banget dengan lagu ini karena romantis; Optimis, dan jujur. Buat yang ingin mendengarkan, bisa dinikmati di Spotify:

Tentang kaya

Ketika gue mesantren dulu, kiayi gue selalu mengingatkan bahwa musuh kita didunia ini adalah Kebodohan dan Kemiskinan. Dengan bodoh, kita menjadi miskin. Dengan miskin, kita menjadi bodoh. Banyak kejahatan terjadi dikarenakan kedua musuh tersebut. Dan memang benar adanya. Gak perlu ngomongin koruptor, karena kemiskinan tidak selalu tentang harta. Miskin akhlak pun seringkali kita dengar, kan?

Ketika gue mendengarkan lagu ini berkali-kali, gue merasa seperti termotivasi. Termotivasi apapun; Menjadi kaya, seseorang yang financial freedom, seorang yang dermawan, dan lain-lain. Terlebih lagu ini dinyanyikan featuring antara cewek dan cowok, perasaan sendu pun kembali menyerang akan kehadiran pasangan hidup yang masih tak terbayang.


Lalu gue terbayang untuk mengubah sedikit liriknya. Meskipun tidak nyambung dengan irama, tapi gue rasa inti dari liriknya benar-benar seperti menggambarkan mimpi gue untuk bisa berbagi seputar programming ke masyarakat luas:

“Let’s get rich and give everybody nice stickers

And teach them how to code.”

Ya, mari kita beri orang-orang stiker yang lucu untuk laptop mereka! Dan mari ajarkan orang-orang menulis sebuah kode program. Mengapa memberikan stiker? Karena para programmer menyukai stiker. Mengapa mengajarkan cara menulis kode? Selain karena gue adalah seorang Programmer, gue yakin masa depan seorang Programmer memiliki karir yang cerah di era teknologi ini.

Gue jadi teringat kutipan Steve Jobs yang berbunyi:

“Everybody in this country should learn to program a computer, because it teaches you how to think”.

Gue bukan seseorang yang sangat kagum dengan pribadi Steve Jobs, tapi gue kagum dengan karya-karya yang dibuat oleh dia. Kembali ke kutipan tersebut, ada benarnya juga dengan apa yang gue alami sekarang. Belajar programming bukan hanya memahami bagaimana sebuah program bekerja, tapi juga bagaimana cara kita berfikir.

Bagaimana cara kita menyelesaikan masalah.

Bagaimana cara kita memberikan solusi.

Terlebih melihat Supply programmer di Indonesia yang masih minim, membuat gue semakin semangat membagikan apa yang gue tau tentang programming ke khalayak banyak. Mungkin sudah banyak programmer-programmer yang ada di Indonesia ini, tapi untuk seorang programmer “beneran”? You know the answer.


Tentang Rasa

Skip this if you hate the fucking love story.

Kadang merasa melow (OK, sering. I hate to admit it) ketika sedang berada di kafe/warung kopi sendirian. Hanya ditemani laptop dan alunan musik dari spotify. Melihat ke sekitar, banyak orang-orang yang sedang berduaan dengan pasangannya, mungkin ada juga yang double date, I don’t care.

Mungkin memilih kafe/warkop sebagai tempat untuk kerja adalah pilihan yang salah. I should listen everyone who evangelizing the coworking space. Yang gue suka dari kafe adalah suasana ngobrolnya, sekaligus menjadi bagian yang gue benci juga. Ingin bawa temen-temen, gue lagi kerja, butuh fokus. Sendirian juga merasa salah, apa sih mau lu riz?

Bawa temen pun paling itu lagi itu lagi, cowok lagi cowok lagi. Sekali bawa cewek, yaa paling dia lagi dia lagi. Dunia pertemanan gue (non-professional) sebatas itu-itu aja. Terakhir memiliki status hubungan sekitar 2014, lima tahun yang lalu ya? Dulu-dulu setelahnya punya sahabat cewek, tapi sudah rada longgar karena dia sudah memiliki pasangan.

Lalu ada satu lagi, tapi sudah rada longgar karena kita berdua memiliki rasa. Daripada hancur berantakan, mending menunggu waktu sampai semuanya menjadi normal lagi. Kondisi ini membuat gue teringat tentang Membangun bisnis bersama teman. Ada sebuah intermezzo seperti ini: “Kalau lu gak siap musuhan sama gue (sama teman lu), mending lu gak usah bangun bisnis sama gue (sama temen lu)”. Di soal rasa, gue kira juga kurang lebih seperti itu: “Kalau lu gak siap musuhan sama gue (sama temen lu), mending lu gak usah sahabatan sama gue (temen lu)”. Jika dikonteks bisnis, ketika terjadi kondisi “gagal”, jika dikonteks rasa ketika terjadi kondisi “memiliki rasa”.

Lalu sekarang? Malah asik mengejar seseorang yang sudah jelas-jelas memiliki pasangan. Selagi janur belum melengkung, ku masih bebas untuk memilih! Ucap Blackout di lagu Resiko Orang Cantik nya. Yaa, daripada gue terhanyut dengan kesenderian dan kesibukan dikarir sampai lupa tentang percintaan, kan? Soalnya gue punya teman, udah sekitar 33+, sampai sekarang masih single. Ketika sudah memikirkan tentang hubungan serius ini, dia kesulitan salah satunya karena “wanita” yang sebaya dengan dia, sudah sulit untuk didapatkan. Ditambah, gue mengerti dari sisi lainnya yang enggak mungkin gue tulis disini.

Itu yang gue khawatirkan. Khawatir boleh, asal jangan panik. Intinya, gue memang enggak terlalu memusingkan masalah percintaan, tapi bukan berarti gue harus mengabaikan itu. Hidup bukan hanya sekedar kerja, ibadah, uang, dan have fun aja, kan?

Tentang hubungannya dengan You and I

Kalian pernah merasakan asiknya percintaan? I mean, not that dirty business. Menghabiskan hari bersama orang yang dicinta, ngobrol apapun, mentertawakan kerasnya dunia, mengejek lemahnya kita, bernyanyi-nyanyi, atau menikmati suasana malam kota diatas mesin beroda.

Diakhiri dengan senyuman sebelum terlelap tidur, atau membayangkan apa yang dia rasakan setelah melewati itu. Biasanya tersirat pesan “Thanks for today”. Sebuah hadiah yang biasa didapat untuk mereka yang jarang bertemu.

Anjiiing asik banget sih masa-masa itu

Sekarang malamku hanya diakhiri dengan peringatan jam tidur dari aiponku. Sebelumnya, melakukan Syncup bersama timku untuk memberitau apa yang dikerjakan hari ini. Bila sedang tidak malas, diakhiri dengan menulis sebuah tulisan yang akan dikonsumsi oleh pengguna internet, seperti saat ini.

Not this blog, but this.

Mungkin sudah bukan masanya seseorang yang sudah berumur 20+ meribetkan tentang ini, tapi apa salahnya? Oke kita memikirkan tentang karir, tapi karir & cinta merupakan hal yang berbeda. Seperti membedakan React & Rust yang technically basically musically jelas-jelas beda.

Gue enggak membandingkan dengan yang sudah menikah, mungkin seperti wiih enak ya kalau udah nikah gak mikirin ginian karena gue yakin porsi/level masalahnya sudah berbeda. Pernah gue berfikiran seperti itu, sebelum gue sadar tentang hal tersebut.

Kembali ke topik, sepertinya seru ketika gue berjuang bukan untuk kepentingan sendiri. Bukan untuk gue, tapi untuk kita. Bukan untuk hari ini, tapi untuk nanti. Memperjuangkan mimpi bersama, merencanankan mimpi bersama, aaah gue rindu dengan masa-masa itu.

Tentang aku

Di kehidupan nyata gue jarang banget nyinggung tentang percintaan. Paling ke temen-temen yang bener-bener deket sama gue untuk dijadikan bahan obrolan & bercandaan aja berdasarkan kisah sedih diri gue dan mereka haha. Menertawakan sensitifnya pacar temen gue, menertawakan perjuangan teman gue yang telat menyatakan, atau menertawakan kisah gue yang menurut mereka goblok lu riz, udah lah cari yang lain aja. But we enjoy it.

Menyinggung masalah percintaan mungkin terlihat wasting time, seperti tidak ada kerjaan lain yang lebih penting. Tapi menyinggung masalah karir mulu, teknikal mulu, gue sebagai seseorang yang ikut andil merasa boring juga. Ini kehidupan gue di internet bisa gak sih jangan tentang karir dan programming aja?, begitulah kira-kira hati kecil gue bersuara.

Mungkin masalah percintaan seperti ini, masalah rasa, tidak perlu dibawa ke internet. But we can do everything we want, kan? Dengan catatan sudah tau resiko yang akan terjadi, seperti jejak digital yang sulit untuk dihapus.

I love you

Let’s get rich. Give everybody nice stickers. Teach them how to code. Teach them how to think. Teach them how to solve the problem. Teach them how to create money tree with programming. Teach them how to build business by writing a code. Teach them how to teach. Everything. If you can imagine it, you can make it.

Tidak perlu background informatika untuk menulis code dan menyusun logika. Selagi ada kemauan, disitu ada jalan. Tidak perlu menjadi programmer untuk bisa mengubah dunia. Selagi memiliki mimpi, dan usaha untuk mewujudkannya, dunia akan menjadi lebih baik setidaknya untuk dirimu sendiri.

Jam sudah menunjukkan 01:30 WIB, 10 jam lagi kita harus kembali ke pekerjaan kita. Berkutik dengan kode, logika, dan rasa. Konstanta, maksudku. Menjadi workaholic memang menyenangkan sebagai pelarian, tapi tidak menyelesaikan masalah yang sedang dirasakan.

Selamat pagi, semoga tidurmu nyenyak para pembaca.

Napa iframe nya jelek banget dah