Internet is a Life

Internet is a Life

And how we are getting lost 11 min read

Tulisan ini akan panjang, dan akan memakan waktu baca lebih dari 7 menit. Jika kamu memiliki waktu luang yang lama, silahkan pertimbangkan untuk membaca ini sampai selesai. Mungkin tulisan ini sedikit dramatis, namun setiap orang memiliki cara pandang terhadap sesuatu berbeda-beda. Bebas membagikan pendapat tentang sesuatu tanpa melanggar koridor norma adalah salah satu alasan mengapa Internet ada sampai hari ini.

Chapter 1: Lahir

Setiap orang memiliki tujuan masing-masing tentang mengapa mereka lahir. Untuk sebagian umat Islam, mereka dilahirkan ke dunia untuk beribadah. Itu adalah tujuan utama mereka. Pernahkah terfikirkan oleh kita, mengapa kita bisa lahir di dunia yang bernama Internet? Ingatkah kalian kapan pertama kali diri anda "terlahir" di Internet?

Jika kalian menggunakan Internet hanya sekedar menggunakan, seperti untuk keperluan Browsing, bermain game, dan lain sebagainya, mungkin eksistensi kalian hanya sekedar orang asing/pengembara yang sedang tersesat dan mencari jawaban disuatu medium bernama Internet.

Beda cerita ketika "lahir" di Internet ini. Saat eksistensi, identitas, dan bentuk kita ada di Internet. Pernahkah terfikirkan Apa tujuan utama kalian terlahir di dunia bernama Internet, ini?. Membahas internet memang terlalu global, namun izinkan gue untuk terus menggunakannya terlebih dahulu. Kita terlahir didunia ini salah satunya adalah misalnya Instagram. Mungkin bisa dianggap Instagram adalah sebuah negara, yang mana rakyatnya adalah.... Silahkan gambarkan sendiri.

Eksistensi, identitas, dan bentuk kita di negara "Instagram" adalah kita sendiri yang membuatnya. Dianggap "ada" dan "tidak" nya mungkin bisa bergantung dengan bagaimana frekuensi kita menggunakan Instagram, atau bagaimana frekuensi kita terhadap "ber-sosial" di Instagram, dsb. Begitupula dengan identitas, ketika kita sering membagikan visual tentang "gunung", maka identitas kita akan terbentuk bahwasannya kita seorang Pendaki Gunung. Di bio nya ditulis "Web Developer", maka identitas kita di negara tersebut terbentuk bahwasannya kita seorang Web Developer. Dan juga tentang bentuk, yang bisa dilihat dari profile; Story, postingan, captionnya, dan lain sebagainya yang mencerminkan diri anda: Baik? Pintar? Sombong? Ramah? Tajir? Terserah.

Tidak masalah "kenyataan" di dunia nyata dan di dunia maya berbeda. Itu hak masing-masing sebagai seorang human being. Sama ketika di dunia nyata kita terlihat menyenangkan dan selalu bahagia, meskipun di dunia paling pribadinya sebenarnya dia seorang yang menyedihkan. Maksudnya, mungkin ada sesuatu yang memang selalu menghantui hidupnya, dan membuat dia sedih.

Kembali lagi ke topik utama, apa tujuan kita hidup di dunia? Di Internet? Di negara? Di Instagram? Sudah/belum memiliki jawabannya, silahkan simpan untuk nanti.

Chapter 2: Tinggal

Ketika kita terlahir, kita akan memiliki tempat untuk kita tinggal. Tidak terbatas oleh rumah, apapun itu. Intinya, tempat kembali setelah melakukan suatu aktifitas. Ada yang beruntung ketika terlahir sudah tinggal disuatu media bernama rumah, yang dimiliki oleh orang tuanya. Ada yang kurang beruntung yang tinggal dijalanan. Beragam.

Tinggal

Intinya, setiap entitas memiliki media untuk tinggal. Sebebas digital nomad pun, dia pasti akan memiliki tempat tinggal, meskipun hanya sementara. Begitupula di Internet, ketika kita telah memutuskan untuk lahir di dunia Internet, kita akan memiliki tempat tinggal. Yang mana gue sebut di negara pada bagian sebelum ini. Setiap orang berhak untuk memiliki "kewarganegaraan" lebih dari satu. Mungkin ada yang memiliki kewarganegaraan di Indonesia, juga di Amerika dan Jepang. Dan kalian pasti memiliki "kewarganegaraan" yang banyak juga di Internet. Instagram, untuk "merepresentasikan" diri anda secara visual, Twitter & Medium yang lebih tekstual, atau youtube yang audio-visual.

Setiap negara memiliki aturan nya masing-masing, juga ada aturan yang memang tidak dibuat namun sudah menjadi kebiasaan. Contohnya adalah kita tau tanda lampu merah adalah untuk berhenti, bila kita terus menerobos, maka kita akan di sanksi. Begitupula yang sudah menjadi kebiasaan, seperti, di kampungku lampu merah/hijau tetap saja terus jalan, karena sudah menjadi kebiasaan dan kebiasaan tersebut pastinya mendasar.

Begitupula dengan di Instagram, Twitter, Medium, dsb yang memiliki ketentuan dan "kebiasaan" nya masing-masing. Se-private "rumah kita" atau "rumah orang tua kita" sendiri pun pasti memiliki aturan, yang harus kita patuhi. Intinya, kita semua memiliki tempat tinggal. Bahkan, orang-orang yang tidak memiliki rumahpun memiliki tempat tinggal, di jalanan misalnya. Karena tempat tinggal, bukan hanya sebuah media bernama rumah.

Chapter 3: Tumbuh

Setiap entitas yang terlahir, pasti akan tumbuh. Tumbuh apapun itu, pertambahan usia; Pengetahuan, pengalaman, dan lain sebagainya. Tidak ada sesuatu yang berkurang untuk sesuatu yang hidup. Berkurangnya usia pun lebih cocok gue sebut dengan "bertambahnya angka terjadinya kematian", karena angka hanyalah angka, kan? Tidak sedikit yang masih hidup diusia yang lebih dari 40, begitupula sebaliknya yang biasanya membuat kita ber-gumam "Waah gak nyangka ya..".

Di internet, "pertumbuhan" bisa kita lihat dari sesuatu yang berbentuk angka. Jumlah pengikut, Jumlah mengikuti, jumlah status, itu adalah pertumbuhan. Dan sekali lagi, tidak ada yang berkurang. Jumlah pengikut kamu yang sebelumnya 300 menjadi 299 itu tidak berkurang, meskipun secara teknis berkurang. Itu semua hanyalah angka! Bayangkan seperti bila biasanya kita minum sehari 8 gelas, dengan sehari 4 gelas, apakah berarti berkurang? Secara angka, berkurang. Secara teknis, tidak. Bagaimana kalo gue kasih tau misalnya 8 gelas sehari, tiap gelasnya 1 liter (misaaal) dan yang 4 gelas sehari, 1 gelasnya adalah 8 liter? Ya, itu cuma angka, kan? Tidak ada yang berkurang.

Grow

Masih gue bahas agar tidak salah paham. Apa bedanya 300 followers dengan 150 followers? Dari segi angka, jelas beda. Bila kita ambil dari konteks lain, misal "influencing", apa bedanya akun dengan 300 followers yang memberikan dampak untuk mempengaruhi kepada 10 orang dengan aku yang memiliki 150 followers yang juga memberikan dampak untuk mempengerahui kepada 10 orang juga? Lihat, itu semua hanya karena angka! Gue gak peduli mendengarkan nasihat entah dari akun yang followers nya hanya 10, atau dari akun yang followers nya 16k dengan centang biru, selagi baik, mengapa tidak? Mengapa angka menjadi parameter akan kredibilitas-an seseorang?

Kembali lagi ke tumbuh. Karena setiap hari kita pasti bertumbuh, hal apa yang ingin kita tumbuhkan? Angka followers? Angka jumlah status? Angka jumlah story? Angka jumlah mempengaruhi seseorang? Angka kemalasan? Terserah. Intinya, pasti akan tumbuh. Bila angka index kemalasan berturun dari 10 menjadi 2, itu artinya angka kerajinan anda bertambah. Sesuatu yang berkurang akan sesuatu yang terus bertambah hanyalah ilusi, pemanis. Yang mana, sesuatu yang terus bertambah disini adalah waktu. Apalagi? Siapa yang bisa mengatur waktu?

Chapter 4: Tersesat

Kalian semua tersesat! Gue juga! Siapa yang memiliki kendali akan "terlahir" nya kita di dunia ini? Kita hanya bisa menerima. Dan merubah bila sesuatu tersebut harus diubah. Terlahir di dunia, tinggal didunia, tumbuh didunia merupakan hal yang tidak bisa kita kendalikan sampai setelah chapter ini. Lahir di Indonesia, tinggal di Indonesia, tumbuh di Indonesia adalah suatu realita yang harus kita lihat. Baik-buruk, pro-konta, dan lain sebagainya adalah kenyataan yang harus dihadapi. Jika merasa aspek-aspek itu semua baik, ingin mempertahankan atau membuatnya menjadi lebih baik adalah hak masing-masing. Begitupula dengan sesuatu yang buruk, menjadikannya baik atau meninggalkannya adalah hak masing-masing.

lost

Ada yang pindah dari negara asalnya ke Indonesia, misal ke Bali. Dengan alasan, negara asalnya memiliki idealisme kapitalis, misalnya. Jika orang tersebut merasa "kapitalisme" adalah hal yang baik, mungkin dia akan tetap mempertahankannya atau bahkan membuatnya lebih baik, misal "Neo kapitalisme". Bila dia merasa itu adalah sesuatu yang kurang baik, maka mungkin dia akan membuatnya menjadi baik, misal menjadi "anti kapitalisme". Begitupula dengan pilihannya dengan meninggalkan negaranya, karena memang tidak bisa diubah. Itu adalah hak mereka.

Idealisme, prinsip, misi adalah hal utama agar kita tidak tersesat. Jika kalian tidak memiliki 3 hal tersebut, kalian sudah tau jawabannya.

Intermezzo

Gue sebelumnya memiliki beberapa identitas, kewarganegaraan, bentuk di dunia Internet ini. Facebook, Twitter, Medium, Instagram, WhatsApp, dan sebagainya. Setiap negara beda identitas, misal di Twitter yang (mungkin) lebih banyak mengeluh/sharing ide secara singkat, di Medium yang lebih panjang, Instagram sharing sesuatu yang sekiranya terlihat memuaskan secara visual, WhatsApp untuk pribadi yang lebih "sopan" dalam berkomunikasi, apapun. Dan gue berhak untuk melakukan itu semua, dan lo pun berhak untuk berpendapat "kok lu di twitter sama ig beda sih", atau yang lebih ke higher-level "kok lu di wa sama di ngobrol langsung beda sih". Itu hak mereka, dan lo, sebagai seseorang yang membentuk identitas lo di berbagai negara, menjadi resiko lo.

Di WhatsApp misalnya yang gue lebih sering balas singkat/hanya emoji, beda dengan ngobrol langsung yang banyak bacot. Atau di Twitter yang sering ngeluh tentang kemiskinan misalnya, sedangkan didunia nyata yang hedon, MISAL YA. Itu hak gue, dan mempertanyakan/mempermasalahkan tentang itu adalah hak lo. Dan itu resiko gue, dan pilihan gue untuk tidak menjawabpun itu hak gue.

Kompleks, kan?

Atau, simple?

Ketika gue menggunakan sosial media itu, ada satu hal yang kurang gue sadari: Apa tujuan gue lahir di sosial media tersebut? Mengapa gue harus tinggal di sosial media tersebut? Pertumbuhan apa yang terjadi ketika gue terlahir di sosial media tersebut?

Lalu gue merasa tersesat, tidak ada prinsip; Idealisme, bahkan misi. Karena jawabannya simple: tidak ada kendali penuh. Jika misi lo menggunakan Instagram adalah untuk promosi bisnis lo misalnya, dan ternyata instagram tidak memperbolehkan itu (misalnya juga), lo bisa apa?

Sadar tidak sadar, kita hanya menumpang disuatu rumah di negara tersebut. Mari kita analogikan rumah itu adalah "username" kita. Semua yang mengakses "sosialmedia.com/username_kita", berarti mereka mengakses rumah kita. Tempat kita tinggal, hidup, belajar, bersosial, dan sebagainya. Semua yang mengikuti kita, adalah orang-orang yang ingin tinggal di lingkungan dekat kita. Jika kita ingin tinggal dilingkungan dekat mereka, sesimple dengan cara saling mengikuti.

Ketika kita hidup dilingkungan dengan mereka, kita harus siap berbagi sesuatu dengan mereka secara langsung ataupun tidak langsung. Misal, kita memiliki kebiasaan merokok ketika pagi hari, bila itu adalah suatu aib, dan kita tidak ingin orang lain mengetahuinya, kita mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa orang lain mengetahuinya karena kita hidup dilingkungan bersama. Alternatif lain adalah dengan cara merokok didalam rumah tertutup yang tidak bisa dilihat orang lain. Membuat status yang tidak bisa dilihat orang lain.

Kenyataannya, kita menyewa di negara orang. Jika kita membuat status "Gue benci dengan presiden sekarang" yang misalnya mengandung SARA dan kita membuat status tersebut hanya bisa dilihat oleh kita sendiri, mereka bisa tau bila mereka ingin. Si pemilik. Jika kita melanggar ketentuan mereka, kita akan menerimanya bila di sangsi. Dan bila kita sudah mengikuti ketentuan mereka, namun mereka bertindak semena-mena, kita berhak untuk bertindak juga.

Chapter 5: Bersosial

Gue tipe orang yang suka bersosial. Dengan orang baru, orang lama, orang jahat, siapapun itu. Selagi baik, mengapa tidak? Kalau tidak baik, gue tinggalkan. Apakah gue pilih-pilih dalam bersosial dengan orang? Tidak. Kalau "berteman", baru gue pilih-pilih. Kita semua memiliki waktu kita masing-masing, dan gue gak mau menghabiskan banyak waktu gue untuk sesuatu yang kurang penting dengan orang yang memberikan dampak kurang baik.

Silahkan ganti kata kurang menjadi tidak.

Talk

Seperti ada yang salah dengan cara gue bersosial di Internet ini. Gue berteman dengan orang baik, anehnya memberikan dampak yang kurang baik untuk gue. Dan yang salah dengan diri gue. Gue masih belum mendapatkan jawabannya untuk ini, cara terbijak yang gue dapat adalah dengan meninggalkan dunia tersebut.

I leave Twitter, Instagram, WhatsApp, Facebook, Medium (sebentar lagi, I promise). Semua orang yang gue ikuti adalah orang-orang baik, orang-orang hebat, dan memberikan pengaruh terhadap diri gue. Tidak ada orang-orang jahat, atau pecundang, dari daftar yang gue ikuti.

Namun ada satu yang menjadi concern dalam hidup gue: Kenyamanan. Gue seperti kurang nyaman membagikan hal-hal gak penting kepada mereka, atau membagikan hal-hal yang kurang profesional, atau apapun itu yang melenceng dari tujuan mereka mengikuti gue. Meskipun gue tipe orang yang "bodo amat" dengan pandangan orang lain, beda cerita ketika gue sadar sendiri. Misal, lo bodo amat dengan pandangan orang lain kalau lo goblok, tapi beda cerita ketika lo sendiri mendapatkan moment yang mana lo merasa "iya ya, kenapa gue goblok?".

Bukan, bukan pecundang. Apalagi iri, minder, down. Bukan gue banget. Yang menjadi permasalahan gue adalah gue kurang nyaman membagikan hal-hal personal gue. Sebelumnya gue bodo amat, ngapain juga harus peduli dengan response orang? Tapi hal ini semakin lama semakin membuat gue gak nyaman. Lalu gue tersadarlah sendiri. Karena gue gak mau ditinggalkan oleh orang-orang tersebut, yang gue lakukan adalah gue yang meninggalkan mereka. "Gak mau" bukan berarti "Gak bisa", ya. Bukan mengusir tetangga, tapi pindah rumah.

Karena kita tinggal sekosan, kan? Menyewa dari si empunya. Kalau itu rumah gue, gue memiliki hak penuh atas gerak-gerik dan privasi yang gue lakukan ditempat tinggal gue.

Chapter End: Welcome to my simple home

Tempat gue membagikan aktifitas gue di Internet. Tempat tinggal, tumbuh, dan bersosial di dunia bernama Internet ini. Ditempat ini gue akan membagikan hal-hal yang gue lakukan terkait prinsip, idealisme, dan misi gue terhadap eksistensi gue di Internet. Jika menurut gue sesuatu tersebut sangat pribadi, dan gue gak mau membagikannya, yaa tidak perlu dibagikan.

Home

Rumah rumah gue, kan? Kalau ingin membagikan "hanya dengan diri gue sendiri" pun, tinggal gue lakukan. Dirumah ini, gue akan memperjuangkan banyak hal dari nol. Jika gue dulu "dibantu" oleh twitter dalam distribusi tulisan baru yang gue buat, sekarang gak ada yang bisa bantu gue. Gue yang memperjuangkannya sendiri, bertarung dengan suatu abstrak disebut "SEO" yang mana gue gak peduli dengannya. Tidak meminta bantuan dari siapapun, namun sangat welcome bila orang lain ingin membantu.

I stand on my own. Life on my own home. Nobody can stops me. Kita sudah terlena dengan kemudahan yang kita nikmati karena si empunya. Sampai kita lupa, bahwa kita menyewa ditempat orang lain. Tidak ada yang gratis, pasti ada harga yang harus dibayar. Tidak ada masalah dengan "menyewa" atau "tidak", logisnya: Selagi kita mampu, mengapa tidak? Menyewa kos-kosan bukan hal yang salah, namun selagi mampu membeli/membangun rumah, mengapa tidak?

So here we go. I "kill" myself on any social media, any somebody else place. Inilah rumahku, dan gue percaya bahwa setiap orang yang "lahir" ke internet, harus memiliki rumahnya sendiri masing-masing. Gue masih "bersosial" dengan diri sendiri disini, ada beberapa (banyak) status yang privasinya hanya untuk gue, dan memang hanya untuk gue yang bisa lihat. Selagi status tersebut "layak" dikonsumsi publik, gue jadikan visibilitasnya publik. Apa bedanya dengan sosial media sebelumnya? Toh sama-sama ingin mengetahui informasi seputar gue, kan? Bedanya, lo bisa "mengikuti" gue sehingga aktifitas gue bisa muncul di linimasa lo, jadi lo gak perlu akses profile2 gue terus-menerus. Kalau disini? Sama aja. Cuma beda cara, mungkin bookmark. Usaha dong, following juga kan sebuah usaha :))


Ok cool! Misi gue terkait eksistensi gue di internet adalah untuk membantu orang lain, membagikan apa yang gue ketahui, dan mencoba membuat internet menjadi lebih baik. Kepergian gue dari negara-negara tersebut jangan dijadikan bottleneck untuk menjalankan misi gue. Kita tetap bisa bersosial, tinggal dilingkungan yang sama, dsb disini. Ada RSS Feed dan kolom komentar bila ingin bersilaturahmi. Bedanya, lebih ramah privasi. Dan, I eat my own food. Jika terus menerus memberikan konten terhadap "platform orang lain" bisa membuat gue bahagia, tenang, pintar atau bahkan bisa membantu gue dalam mencari sesuap nasi, mengapa gak bisa melakukan itu semua pada "platform yang gue punya sendiri"?

Sekali lagi, welcome. Dan tunggu kabar selanjutnya.