Mempersempit pertemanan

Published 7 Mar 2019 ☕️ 8 min read

Dari buku The Subtle Art of Not Giving a Fuck gue inget bahwa semakin kita dewasa, maka akan semakin banyak hal-hal kecil yang kita fikirkan, dan ini bener banget. Bahkan hal-hal seperti macet dimana-mana, kerasnya kehidupan, sampai politik yang dampaknya tidak benar-benar terasa langsung oleh gue pun menjadi perhatian gue. Terlebih di era informasi yang menyebar cepat, banyak perhatian-perhatian yang sebenarnya tidak penting-penting amat, tapi “menarik” untuk diperhatikan.

My Previous Attention

Gue sangat menghargai sebuah pertemanan, teman menjadi pengganti orang tua gue untuk tempat bercerita, mengingat gue sedang berjuang di kota orang. Jika difikir-fikir, lingkaran pertemanan gue seperti ini:

Friends

Yes, I’m bad at drawing.

Dari 7 lingkaran tersebut, beberapa memiliki sosial media, dan beberapa terhubung dengan gue dilebih dari satu sosial media. Bukan suatu masalah besar menurut gue, tapi karena gue ingin mempersempit pertemanan gue, jadi akan gue persempit. Apaan sih.

People come, and go.

Ya, semakin dewasa, maka orang-orang akan datang kepada kita ketika ada butuhnya saja. Serius. Dan ini bukan masalah menurut gue. Ada teman gue yang datang ke gue ketika dia butuh gue untuk ngebenerin laptopnya, ada yang datang cuma buat nawarin project, atau ada yang datang karena kebetulan dia sedang di kota Bandung.

This is fair.

Setiap orang memiliki kepentingan, kan? Tapi ingatlah, ada teman yang akan tetap bersama kalian meskipun tanpa kebutuhan spesial. Yang datang karena kangen, karena sudah lama tak berjumpa, yang datang untuk mencaci maki dunia, bercerita tentang hari-harinya, bercerita tentang kisah asmaranya.

Ini yang harus dijaga.

Dan biasanya, tidak lebih dari 5 orang. Dengan mengurangi perhatian gue kepada orang-orang yang hanya datang lalu pergi, gue bisa memiliki waktu untuk mereka. Orang-orang yang datang dan pergi bukan karena bisnis, tapi karena ikatan pertemanan tersebut.

Separation of concern

Jika kalian developer, pasti sudah familiar dengan prinsip ini. Pemisahan perhatian merupakan prinsip yang sangat efektif untuk bisa menghasilkan sesuatu yang efektif. Dalam konteks ini adalah “pertemanan”.

Pada hari selasa, gue ngetwit tentang penghapusan akun sosial media yang dimiliki oleh perusahaan Facebook. Selain karena alasan “idealisme” (you can read more on Internet about Fb controversy), juga karena untuk pemisahan perhatian ini.

Sekarang, lingkaran pertemanan gue seperti ini kurang lebih:

friends circle (2)

Sebagai penjelasan singkat:

  • Twitter: untuk orang-orang yang secara random & tidak terduga yang ingin gue ketahui kabarnya. Termasuk para developer
  • LinkedIn: Untuk orang-orang yang ketemu sama gue secara profesional (teman kantor, mantan long-term client, dll)
  • LINE: Untuk orang-orang yang gue kenal di kampus
  • Telegram: Untuk orang-orang yang gue kenal dari komunitas

Dan yang lingkaran yang paling besar adalah orang-orang yang pernah gue temui di dunia nyata, dan masih bersilaturahmi sampai hari ini. Gak masalah mereka berhubungan dengan gue baik di Twitter, LinkedIn, Line, dan Telegram secara bersamaan.

Karena setidaknya gue tau “karakter” mereka di dunia nyata. Apalagi temen-temen gue dari SMP.

Berkat pemisahan ini, gue bisa membagi perhatian gue berdasarkan sosial media. Jika ada notif di Line, pasti seputar kampus. Jika dari Telegram, pasti dari komunitas, dsb. Jadi, gue bisa memprioritaskan komunikasi di keseharian gue.

How about someone else life?

Selagi tidak berada dilingkaran itu: I don’t fucking care, seriously. Artis, politik, kejadian-yang-katanya-lucu-lalu-di-upload, kabar terkini dari orang yang tidak kita kenal dan tidak kenal kita dsb gue enggak peduli.

Di Instagram, ini gampang banget dilakukan. Silahkan berterima kasih kepada tab Explore atau Sponsored post yang tidak bisa kita kendali dengan penuh. Sayangnya, gue enggak peduli. Enggak ada dampaknya juga untuk kehidupan gue, ngapain gue harus peduli?

Tempat terbaik untuk mengetahui kabar dari seseorang yang gue pedulikan adalah yaa dari lingkaran tersebut. Bagaimana bila orang tersebut tidak update-update status/tweet/chat? Yaa tanya langsung secara personal! Eh gimana lo masih kerja disana?, Eh komunitas X pertumbuhannya udah sampai mana?, Tumben lo udah gak galau di Y, ada cerita apa nih?. Dsb.

Gampang banget, kan?

Kalau untuk teman-teman yang 5 orang/lebih itu yaa ngapain nanya kabar di sosmed, toh tiap minggu kumpul kok. Bahkan ada yang tiap hari memang ketemu.

BUT WHY RIZ WHY?

Yaitu, semakin dewasa semakin banyak yang diperhatikan. Susah untuk fokus. Susah membagi waktu. DLL. Gue sudah bosen dengan orang yang datang lalu pergi, bila memang ada potensi untuk “datang-lagi-untuk-bisnis”, gue harus ada tempat khusus untuk menampung itu, dan gue rasa LinkedIn adalah tempat yang cocok.

Agar hubungan kita sebatas “profesional”, not “personal”.

Waktu gue bisa banyak dialokasikan untuk sesuatu yang lebih membutuhkan perhatian dibanding berinteraksi/berkomunikasi dengan seseorang yang memang tidak terlalu butuh-butuh banget. IG Story, WhatsApp Story, dsb. Ya, terima kasih sudah memberi tau gue kalau lu sedang di Bandung. Apakah lo benar-benar ingin informasi tersebut hanya diterima oleh gue, apa hanya untuk ngasih tau orang-orang kalau lo lagi di Bandung?

Gue yakin kalau dia memang benar-benar hanya ingin memberi kabar klo dia lagi di Bandung ke gue, dan dia membutuhkan gue, pasti dia akan kontek gue entah lewat cara apapun.

Itu hanya perumpamaan saja ya.

Banyak kasus lain yang bisa diumpamakan.

Sombong lu, riz!

Oh enggak, man. Gue mempelajari bahwa ternyata tidak semua aktifitas yang kita lakukan harus dipublish di sebuah wadah bernama sosial media. Lagi makan dimana, lagi dengerin lagu apa, dsb. Gue baru mempelajari hal ini baru-baru ini.

Apakah dulu sebelum ada WA & IG orang-orang pada peduli kalau lo lagi makan di mekdi?

Yaa paling: Uy, lu dimana? Gue kekosan lu gak ada. Atau Sini ke dago, nongkrong. Ya, kan?

Terus gimana caranya untuk mengetahui aktifitas lu, riz?

Orang-orang yang pernah ketemu sama lu didunia nyata mungkin ingin tau keseharian lu, kan? Dan lu merasa biasa saja yaa karena kita pernah bertemu, dan tidak langsung pergi begitu saja. Untuk gue, gue menyediakan halaman now untuk memberitahu sekarang gue lagi sibuk apa.

Kalau ingin tau “apa yang sedang gue fikirkan secara singkat”, bisa cek Twitter gue. Kalau ingin ajak meetup komunitas, chat telegram. Kalo nanya kabar kampus, ketemuan dikampus. Atau bisa LINE gue. Ingin tau kabar profesional gue? LinkedIn! Lebih spesifik? Github!

Ingin benar-benar ingin tau aktifitas gue lebih dekat? Tinggal deket gue! Lebih spesifik lagi? Tinggal serumah! Simple, kan?

Tapi lu kadang deactive dan reactive akun sosmed lu, riz!

Semoga sekarang kagak. Sudah banyak pelajaran yang gue dapet, dan semoga bisa konsisten meskipun sulit. Mungkin untuk kabar-kabar yang sekiranya puanjaaang, akan gue share di Blog. Untuk siapa? Yaa untuk orang-orang yang peduli dengan kabar gue haha.

Let’s be friend.

Gue senang menambah pertemanan. Dalam konteks apapun. Bisnis, personal, pelarian, dsb. Kalau lo belum kenal gue, belum pernah ketemu gue, tapi tertarik dengan pemikiran dan keseharian gue, lo bisa follow twitter gue. Stalking juga gak apa-apa, like everyone does. Gak ada niatan untuk diprotect.

Kalau lo tertarik dengan aktifitas profesional gue, bisa tambah koneksi di LinkedIn. Kalau gue pernah kenal lo sebelumnya, pasti gue acc kok. Kalau enggak kenal, lo bisa kasih alasan di notes kenapa lo ingin menambahkan gue ke koneksi.

Untuk LINE, sayangnya gue menonaktifkan add by id. Kalau kita pernah bertemu sebelumnya terkait dunia kampus, harusnya lo segrup sama gue. Atau mungkin punya nomor telfon gue.

Untuk aktifitas yang berkaitan dengan komunitas, bisa kontak gue via Telegram. Telegram juga gue pakai untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di Internet dan ingin berkomunikasi dengan gue. Dan gue very very welcome dengan itu. Bukankah “pengguna internet”, “pembaca blog” juga bisa dimasukkan kedalam kategori komunitas?

Selainnya, lo pasti tau dimana gue tinggal. Atau, pasti nyimpen nomor hp gue. Orang-orang ini adalah orang-orang yang benar-benar tau gue, aktifitas gue, privasi gue, dsb.

Kalau memang lo butuh nomor hp gue untuk alasan yang benar-benar dapat diterima dan rasional, minta aja ke gue. Pasti gue kasih kok, aku orang nya baik da. Bahkan alasan “iseng” pun akan gue kasih, selagi bukan untuk soceng gue & keluarga gue; Nawarin asuransi, apalagi MLM.

That’s it.

Bukan gue gak suka dengan kehidupan orang lain, masalahnya apakah orang lain juga bahkan peduli dengan kehidupan lo?. Apa bahkan gak kenal lo? Lo mati-matian untuk mengetahui kabar orang lain, bahkan orang lain tersebut peduli setan dengan eksistensi lo?

Come on, ini semua karena sosial media. Trust me.

Dengan mengurangi perhatian kita, kita bisa memprioritaskan dan membagi waktu kita dengan lebih mudah. Banyak hal yang lebih bermanfaat daripada hanya untuk melihat aktifitas orang lain yang bahkan tidak kita kenal/yang tidak kenal lo.

Percayalah, jika lo berada dilingkaran tersebut, berarti gue memang ingin tau aktifitas yang lo lakukan di hari-hari lo. Profesional, personal, bahkan keluhan-keluhan lo. Jika gue udah gak ingin, tinggal unfollow; Remove connection, delete contact, atau gak mau ketemu lo lagi.

People come and go, my friend. Dan gue jarang banget melakukan hal diatas, kecuali memang karena alasan yang benar-benar dapat diterima: Kematian, contohnya. So scared, but life must goes on.


Thanks for reading this. If you are random person and want to contact me for everything-reason, just reach me out via email. I love reading email because its private, and we don’t need to know is your email delivered/already read. It’s asynchronous, but made a connection between us.

And it works.