Mencoba Brave

Mencoba Brave

Mencoba berani 8 min read

Sebagai seorang Frontend Developer, gue memiliki berbagai browser yang terpasang di laptop gue: Mozilla Firefox, Google Chrome, Apple Safari, bahkan Microsoft Edge di Windows gue. Keseharian gue adalah menggunakan Firefox, untuk development pun primary nya menggunakan Firefox, setelah merasa "ingin di push", barulah gue cek terlebih dahulu di Chrome hasil akhirnya.

Gue menggunakan Firefox bukan karena tanpa alasan, dulu browser utama gue adalah Chrome. Karena simple, mudah, memiliki ekosistem yang bagus khususnya untuk developer, dan cepat. Silahkan baca tulisan yang berjudul Browser diversity starts with us yang ditulis oleh Jeffrey Zeldman (orang dibalik A List Apart) tentang salah satu alasan gue pakai firefox.

Retrospective with my Now page

Pada 29 Maret 2019 gue memperbarui halaman Now gue, dan yang ingin gue highlight adalah bagian ini:

  • Telling people to use their own platform
  • Telling people why (digital) privacy is matters

Meskipun sebenarnya gue belum benar-benar "telling" (tapi asa gue pernah nulis tentang "Why I hate ads", tapi teuing dimana) tentang kedua point tersebut, biarkan gue persingkat disini.

Tentang Medium

Jika kalian sadar, gue deactive akun medium gue. Pusing gue tiap googling, nemunya tulisan yang mengarah ke Medium lagi. Tiap buka Medium, rata-rata feed gue dipenuhi dengan tulisan "Member Only". Oke mungkin itu bagus untuk para penulis, but come on, gue rasa seharusnya bukan gitu caranya.

Gak ada masalah (well, gak banyak maksudnya) dengan Medium, tapi "kadang" dengan orang-orang nya aja. Medium mengubah kutip menjadi "kutip" versi mereka, code block yang jelek banget pengalamannya, dan ya, medium sekarang tidak seperti medium yang dulu dikenal. Sekilas Medium bagus banget, dari sisi pengalaman menulis & membaca, distribusi konten & SEO, dsb.

Medium bisa export content yang sudah kita buat, bisa melihat analitik terhadap konten yang kita tulis, dsb. Tapi tetap, Medium is Medium. It's not you. Meskipun "your content is your content", lihatlah halaman Terms of Service ini:

Which reason?

Dan ini:

Your content is yours, but you have no power to control it. If they dislike it, they can delete it if they want. And you can't prevent them, right?

Oke itu sekilas tentang Medium. Jika kalian ingin mengetahui lebih lanjut tentang "Use your own platform", silahkan baca:

Tentang Privasi Digital

Berbicara sesuatu yang abstrak memang sulit, selain karena tidak terlihat juga karena sulit untuk dibayang. Kita memiliki hak sebagai manusia, dan privasi adalah salah satu hak kita. Kita tidak ingin informasi-informasi pribadi seputar diri/hidup kita diketahui oleh beberapa orang, dan itu hak kita. Tidak memberikan informasi tersebut adalah hak kita, dan tidak memaksa untuk mengetahui informasi tersebut adalah hak yang seharusnya disadari oleh orang lain tersebut.

Anggap yang paling gampang, minum-minuman keras adalah kebiasaan terburuk lo. Karena lo nganggep nya "aib", maka lo tidak mengumbar-ngumbarkannya pada khalayak publik. Hanya lo dan tuhan aja yang tau, atau sama teman se-perminum-an lo. Apa yang terjadi ketika orang lain ada yang tau tentang kebiasaan buruk lo tersebut, padahal lo gak pernah ngasih tau? Mungkin karena orang lain tersebut penasaran, dan ingin cari tau, seperti ini si fariz tiap malem minggu kemana sih. Contoh aja.

Hak privasi lo terganggu. Siapa yang suka privasinya terganggu?

Kita hidup di zaman digital, lucunya, kita lebih "banyak" memberi dibanding lebih "banyak" diminta. Kenapa? Karena sudah by design. Ambil contoh Instagram, Instagram gak minta lo untuk "mencantumkan lokasi" pada foto lo, tapi lo mencantumkannya.

"Tapi kan Instagram udah ngasih fitur nya!"

That's it. By design.

Lalu, feed instagram lo ada "iklan" seperti chivas, smirnoff, dsb. Yang difikirkan orang "awam": Wah chivas lagi diskon 66.6% nih di X, Wah menarik nih smirnoff rasa terbaru, dsb. Kalau kita mikir, mungkin yang kita fikirkan: "Napa iklan ini yang muncul di feed gue?"

Kenapa tempat ini yang muncul?

Apakah ada yang ngikutin gue?

Privasi digital umumnya tentang iklan. Iklan tentang bisnis, dan bisnis tentang duit. Harusnya, lo dibayar oleh instagram karena sudah melihat iklan (yang sesuai dengan minat lo). Mereka menggunakan data kita, data kita "diberikan" kepada pengiklan, pengiklan mendapatkan target audience mereka dengan tepat.

Mengapa instagram tidak membayar kita?

Bayar kok. Bukankah kita menggunakan instagram secara gratis? Silahkan ganti kata instagram dengan nama platform lain yang gratis dan mengandalkan keuntungan dari iklan. "Bayaran" lo, digunakan untuk "membayar" penggunaan layanan instagram tersebut.

There is no free lunch, right?

Trying (to) Brave

Sebenarnya sudah lama tau tentang Brave, tapi baru tertarik serius akhir-akhir ini. Brave merupakan sebuah perusahaan yang dibangun oleh salah satu cofounder Mozilla yang memiliki misi "to fix the web".

Misi Brave adalah dengan memberikan pengguna pengalaman browsing yang aman, cepat, dan lebih baik. Alias, nge-block iklan dan tracker, karena memang 70% yang memperburuk pengalaman browsing adalah iklan (UI & UX) dan tracker (Performance).

"Lalu, bila kita nge-block iklan, gimana dong cara "content creator" mendapatkan keuntungan?"

Brave sudah menyiapkan solusinya. Kalau gue jelasin panjang lebar pasti bakal panjang banget sih, gue akan bahas singkatnya aja, jika masih penasaran, silahkan kunjungi situsnya disini.

Medium vs My own platform

Medium menawarkan win-to-win solution antara penulis, pembaca, dan medium. Penulis mendapatkan keuntungan dari medium & pembaca (yang subscribe), pembaca mendapatkan keuntungan tidak ada iklan, tracking untuk jual info ke 3rd party, dsb, dan medium mendapatkan keuntungan dari yang subscribe tersebut.

$5/bulan bukanlah sesuatu yang besar. Harga 1 kopi klo ngopi di stabrak lah untuk yang venti.

Oke, anggap $5/bulan tidak masalah. Jika "member" medium ada sekitar 1000 orang, ada $5000/bulan yang akan dibagi kepada penulis-penulis yang ceritanya "disukai" oleh pembaca "member". Entah bagaimana cara perhitungannya, yang kita tau adalah seperti ini:

Sumber

$320 bukanlah nilai yang kecil. Melihat nilai tersebut membuat kita menjadi lebih "bersemangat" untuk menulis tulisan yang lebih berkualitas dan lebih disenangi oleh pembaca. Pendapat pribadi, Medium menggunakan Stripe. Stripe tidak/belum mendukung di Indonesia, jadi silahkan ambil sendiri kesimpulannya.

"Kenapa sih harus pakai Stripe, kenapa gak pakai vendor lain aja?"

Itulah salah satu alasan Use your own platform: You can control what the fuck you want.

Dan kita menulis, untuk diri kita sendiri. Lo punya kontrol penuh terhadap "kelangsungan hidup" platform lo. Bagaimana ketika kita sudah mendapatkan $666/mo dari Medium, namun ternyata suatu saat medium shut down?

Kembali ke menggunakan platform, membuat platform sendiri tentu lebih memakan usaha daripada menggunakan platform yang tinggal pakai. Nyentuh server, kodingan, dsb padahal yang kita inginkan adalah hanya menulis.

Beruntung, sudah banyak platform "gratis" tinggal pakai. Bagaimana dengan server? SEO? Dsb? Disitulah tradeoff nya. Silahkan fikir sendiri tentang "apa yang menjadi tradeoff" nya demi mempersingkat tulisan ini.

Oke misal kita ingin "bertahan hidup" dengan menulis. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan:

  • Menjual produk kita disini sebagai media promosi
  • Menjual produk orang lain dengan sistem bagi untuk bernama "affiliasi"
  • Menyediakan kolom iklan (baik dari ads network, private, dsb)
  • Menyediakan fitur untuk "tipping" sebagai "payment thank you"
  • Buat paywall seperti situs2 besar. Hanya bisa dibaca oleh pembaca setia
  • Dsb

Anggap pilihan kita hanya ada di poin 3-5, karena kita tidak menjual produk. Misal poin 3 tidak kita pilih misal karena "menganggu privasi & pengalaman pembaca". Sedangkan, poin 4-5 membutuhkan "effort" lagi: Setting payment processor.

Meskipun sudah ada layanan-layanan lain seperti Liberapay, Patreon, d.rip, dsb, namun itu berada di platform orang lain. Pilihan paling bisa menggunakan Liberapay; Open Source & 0% fee. Tapi masih banyak yang belum familiar dengan Liberapay, dan pembayaran harus menggunakan Paypal untuk Indonesia.

Introducing Brave

Brave adalah sebuah browser. Sebuah aplikasi yang kita gunakan untuk berselancar di internet, membaca tulisan yang dibagikan oleh situs favorit kalian, dan menonton video dari pembuat yang kalian sukai.

We hate ads, that's why you use adblock. Selain karena mengganggu, juga karena tidak ber-etika. "Pardon for intterupt" alias bangsat kau, daftar lah yang mana sebuah popup yang familiar kita jumpa. Adblock membantu kita menghindari masalah tersebut, sayangnya, berarti kita "secara tidak langsung" menganggu rezeki mereka untuk yang menyambung hidup dari menulis dan bergantung dengan iklan.

Solusi singkatnya adalah dengan membuat program "Paywall" atau enggak "content for subscriber only", sudah terbukti efektif (diluar) untuk model tersebut. Sayangnya, mungkin terlalu "strange" membayar misal $2/bulan hanya untuk membaca tulisan, karena:

  • Belum tentu tulisan tersebut selalu kita sukai
  • Belum tentu tulisan ter-publish secara konsisten
  • Dsb

Mengapa sistem subscribe? Karena itu yang paling efektif. Emangnya payment processor gratis?

Juga, emangnya $1/tulisan worth?. Payment processor kurang efektif untuk micropayment, karena, well, jika kita mendapatkan $1, maka yang benar-benar kita dapat mungkin hanya $0.67 (fee nya $0.33 alias 2.9% + 30¢). Jelas tidak efektif, kan?

Gue sebenernya tidak terlalu fanatik dengan cryptocurrency, tapi untuk micropayment & blockchain gue tertarik. Brave memfasilitasinya untuk kita. Out-of-the-box with almost-zero config.

Brave, selagi membuat pengalaman browsing kita lebih aman dan lebih cepat, juga membantu kita (content creator) agar tetap bisa bertahan hidup dari membuat konten.

Lo masih tetap bisa nge-block tracker dan iklan (kalau ada), namun sekaligus masih tetap bisa membantu seorang content creator untuk bisa bertahan hidup dari membuat konten. Jenis "kirim tip" nya pun beragam, bisa cuma sekali (misal cuma tulisan ini aja) bisa per-bulan kalau lo emang bener-bener ingin mendukung content creator tersebut. Mungkin karena lo merasa orang tersebut membuat konten-konten yang bermanfaat dan memang benar-benar membantu dalam hidup & karir lo.

Lucunya, selain kalian bisa membayar konten kreator yang kalian senangi, kalian juga bisa dibayar bila kalian ingin melihat iklan.

Setelah gue pelajari sekilas, intinya ini masuk ke "ethical ads" yang lebih lucunya, lo ngeliat iklan kalau emang lo pengen aja. Win-to-win nya? Lo liat iklan dan dibayar lalu advertiser hanya membayar "bill" untuk mereka yang (ingin) melihat iklan saja. Silahkan pelajari lebih lanjut disini.

The Entropy

Terlihat "terlalu meyakinkan" ya? Terlebih menyinggung cryptocurrency. Tapi gue percaya dengan misi Brave, orang-orang dibaliknya, kapabilitasnya, integritasnya, dsb. Terlebih browser Brave Open Source, yang mana "produk inti" nya bersumber terbuka. Kita bisa lihat what's going on with Brave browser.

Sekaligus ingin tau, apakah model seperti ini bekerja atau tidak. Khususnya di Indonesia. Kita butuh lebih banyak orang-orang yang berbaik hati membagikan pengetahuan dan pengalamannya ke internet, dan kita butuh lebih banyak orang-orang yang menghargai hasil kreatif dari seseorang, khususnya di dunia digital.

Sebagai iklan, jika kalian tertarik, silahkan download browser Brave disini via link referal gue. Atau bisa kunjungi brave.com bila tidak ingin via link referal. Setelah mengunduh Brave, kalian tidak perlu memasang ekstensi Privacy Badger ataupun uBlock Origin, sudah batteries-included untuk masalah privasi digital di Brave.

Mengapa menggunakan browser lain selain Firefox/Chrome/Safari?

Hmm, diversity? Meskipun Brave dibangun diatas Chromium, namun Chromium tetaplah chromium yang open source. Google Chrome adalah produk yang dibangun diatas Chromium, sama seperti Brave. Bedanya, Chrome closed source, kalau Brave Open Source.

Diversity bagus untuk kesehatan community, dan inovasi terjadi dalam kompetisi.


Follow me.

Brave bukan untuk semua orang, hanya untuk orang-orang yang berani. Bantu Brave melakukan misinya untuk "fix the web", mari kita lihat apakah model seperti ini berhasil atau tidak. Jika kalian menyukai tulisan-tulisanku, pertimbangkan untuk memberikan tip kepadaku via Brave untuk website ini. You directly support my work, not via 3rd party platform like what medium did.

Gue akan melakukan hal serupa, kalau lo sepemikiran juga dengan gue.

Jangan ngikut buta! Silahkan pelajari lebih lanjut terlebih dahulu tentang Brave dan Basic Attention Token Sebelum sependapat dengan yang ada di tulisan ini

Thanks. Sorry for the extra 1 minute.