Passive income

Passive income

Mari ngobrol tentang passive income 15 min read

Per-tahun 2019, mungkin hidup gue sudah lumayan beruntung. Bekerja sesuai passion, dibayar lumayan memuaskan, serta gaji Jakarta tapi tinggal di Bandung. Lalu, untuk apa menulis tentang Passive Income? Slow down, seduh kopi aja dulu.

Di pekerjaan sekarang, porsi ngoding gue jadi lebih sedikit. Malah hampir jarang banget, mostly doing code review yang banyak lgtm nya daripada request changes nya. Juga, lebih banyak nulis dokumentasi dan ngukur-ngukur yang harus diukur.

Topik tentang ini sebenarnya sudah lama ingin gue bahas, tapi karena menurut gue waktu yang tepat adalah saat ini, so here we go.

Passive Income

Sederhananya adalah pemasukan pasif, penghasilan yang didapat "bukan dari" pemasukan aktif kita. Klo lo seorang guru lalu melakukan sambilan jualan ilustrasi (dan dibayar) maka jualan ilustrasi tersebut adalah salah satu channel passive income lo.

Banyak (sekaligus bervariasi) alasan mengapa orang mencari penghasilan pasif, mungkin karena memiliki waktu luang yang lebih, gaji yang kurang dari cukup, iseng-iseng berhadiah, dan sebagainya. Biasanya Passive Income tersebut kita sebut dengan "Side Project", proyek sampingan. Tapi secara spesifik disini gue sebut passive income karena Side Project tidak selalu tentang mendapatkan income.

Sharpen My Skills

Karena tuntutan kantor yang membuat porsi ngoding gue jadi lebih sedikit, gue mau gak mau harus cari cara agar tetap ngoding. Gue pernah hampir ingin meninggalkan dunia perkodingan dan fokus di manajemen terkait perkodingan, tapi ternyata gue untuk saat ini masih lebih enjoy di dunia perkodingan daripada manajerial. Mungkin karena faktor umur yang masih ingin mencoba hal-hal baru yang menantang.

Kalo lo aktif di GitHub dan melihat aktifitas gue di GitHub, mungkin lo memiliki pemikiran bahwa hal-hal yang gue lakukan tersebut––the side project––adalah salah satu channel passive income. Padahal salah besar, belum ada satupun passive income gue yang datang dari side project berbasis kode.

Itu cuma buat "ngasah" otak gue biar setidaknya enggak kaku-kaku banget dalam nulis kode. Sejujurnya baru beberapa bulan aja udah banyak perubahan signifikan di diri gue, termasuk sekarang klo ngoding jadi lambat banget. Hal-hal yang biasa gue lakukan dalam 1-3 hari, bahkan sekarang seminggu pun enggak kelar :))

Mau tau passive income gue dari mana? Tunggu dulu, mari kita bicarakan "fundamental" nya terlebih dahulu.

Passive Income Fundamentals

Klo lo pernah membaca buku Side Hustle mungkin sudah tau beberapa "fundamental" tentang Side Hustle khususnya di dunia digital. Disini bagian ini gue akan membahas di 2 cara: Konvensional & Digital. Gue yakin tulisan ini akan lebih dari 7 menit, tapi persetan angka.

Konvensional

Anggep lo sudah memiliki skill jualan, misal lo pernah menjual kaos secara offline. Kepada keluarga, teman, bahkan orang yang gak dikenal. Sampingan yang lo ambil adalah menjadi Reseller, dan barang nya ada. Lo mulai ngasih tau teman-teman atau keluarga lo kalo lo jualan misal kaos polos.

Target pasar lo adalah orang-orang yang tertarik dan senang menggunakan kaos polos.

Target lo akan membeli barang lo kalo sesuai dengan kriteria mereka, entah dari harga; Kualitas, warna, dsb. Sebenernya kriteria tersebut bukanlah parameter utama mereka, klo lo pandai dalam menjual. Membual. Jago berkomunikasi. Manis banget pokoknya klo ngomong.

Penjualan secara konvensional relatif lebih mudah, bisa memainkan psikologi seseorang secara langsung karena kita memang berinteraksi mereka secara nyata. Juga empati bisa diberikan & diterima secara langsung, tidak kecil kemungkinan orang membeli klo lo terlebih lebih menjual empati.

Digital

Pada dasarnya, di dunia digital yang lo jual hanyalah informasi. Lo bisa aja jualan lambo di internet meskipun lo enggak punya lambo selagi lo membungkus informasinya dengan rapih dan meyakinkan.

Lihat ecommerce yang ada, sudah banyak usaha yang mereka lakukan untuk meyakinkan pembeli. Sistem rating, "badge", "verified seller", dan lain-lain. Mengapa mereka melakukan itu? Karena semakin banyak transaksi berarti semakin besar juga angka yang mereka dapat.

Maka dari itu kita harus sepintar mungkin dalam menyampaikan informasi kepada audience kita. Minimal, bisa memainkan psikologi audience kita via tulisan yang pastinya bukan hal yang mudah. Gue pun sudah sering latihan terkait ini, dari memulai bagaimana membuat audience bangga; Bahagia, sedih, bahkan kesal/marah. Klo lo salah satunya yang pernah merasa, congratulations, psikologi lo berhasil gue mainkan via tulisan.

Tapi memang ada aja tulisan yang bener-bener no gimmick & no bullshit. Murni tanpa tujuan memainkan psikologi pembaca gue.

Mengapa gue melakukan itu?

Latihan, you know. Klo misalnya gue "sudah bisa" membuat orang marah via tulisan, mengapa gue enggak bisa membuat orang tersebut senang? Iya, gak?

Oke ke main topic ya, passive income gue sebenarnya adalah dari blogging. Gue berani nyebut itu karena, wew, gue pernah dibayar dari blogging. Dan disitu gue senang banget, setelah bertahun-tahun enggak pernah dapet "keuntungan langsung" dari situ, but its okay.

Btw jangan samakan passive income === freelancing, klo sumber penghasilan utama lo dari freelancing, yaa berarti itu active income masuknya. Gue akan membahas banyak juga seputar menjadikan blogging sebagai passive income, namun sebelumnya akan gue mulai dari jenis-jenis passive income yang bisa dipilih selain dari blogging berdasarkan pengetahuan yang gue tau.

Passive Income Channels

Kita sedang membahas tentang passive income di dunia digital, okay? Jadi jangan berharap jualan risol masuk ke daftar.

Oke cool, anggap lo ingin mencoba mendapatkan passive income. Hal yang perlu lo ketahui adalah ada harga yang harus dibayar, seperti tenaga; Waktu, atau bahkan uang. Gue anggep lo sudah menyiapkan tentang itu, mari kita lanjut.

Passive income yang bisa lo lakukan selain blogging adalah seperti membuat desain-apapun-itu, menjadi SEO researcher klo lo blogger, jualan design assets klo lo designer, jualan template klo lo programmer, jualan stock photo klo lo photographer, jualan informasi klo lo pendongeng, atau jualan "diri lo" di digital klo lo layak :))

OK mungkin "jual diri" bahasa nya terlalu lonte, tapi yang gue dapet dari orang-orang yang disebut "influencer" khususnya di IG, klo dia bukan pekerja kreatif, berarti dia jual diri dia. Jual apa aja, tampang; Badan, kulit, bahkan mata.

Kecuali influencer-influencer yang memang bekerja di industri kreatif yang membuahkan sesuatu.

Klo lo enggak tertarik mencari passive income selain dari blogging, mungkin lo bisa memilih dari daftar diatas yang gue sebutkan tersebut. Sebenernya mungkin ada lagi yang belum gue sebutkan, seperti streamer; Gamer, dan content creator. Tapi yaudah lah ya udah gue sebut kan barusan.

Passive Income in Blogging

Oke kita mulai ke topik inti dari tulisan ini. Gue bukan seorang blogger profesional, apalagi terkenal & keren. Tapi karena gue mendapatkan duit dari aktifitas ini, maka dari itu gue berani berbagi tentang ini.

Latar Belakang

Sejujurnya gak pernah sedikitpun terbesit menjadikan blogging sebagai channel passive income. Gue menulis di blog (blogging) murni untuk berbagi. Gak pernah gue membuat tulisan "khusus" hanya untuk orang-orang yang misalnya membantu gue secara finansial dalam aktifitas blogging ini, atau menjual tulisan-tulisan gue secara ekslusif.

No, sharing is part of my DNS.

OKE JUST KIDDING, DNA.

Dan ingin gue tularkan salah satunya kepada member evilfactory. Karena terbuka lebih baik dari tertutup, semua orang menyukai transparansi, dan berbagi adalah salah satu cara untuk terbuka.

Dengan blogging kita berani membuka diri kita kepada orang lain, membiarkan orang lain mengetahui cara pandang kita dan membuat orang lain dapat memberikan feedback kepada kita dsb.

Hidup akan lebih menyenangkan ketika kita terbuka kepada orang lain.

Oke selesai idealis, mari kita realistis.

Kapital

Menulis memakan biaya, waktu & uang. Misal, dalam 3 jam mungkin lo bisa menghasilan 666rb daripada menulis yang enggak menghasilkan sepeser rupiah pun. Yang gue yakin adalah dari blogging ini klo gue enggak bisa mendapatkan keuntungan terebut secara langsung, berarti mungkin nanti.

Orang-orang pada dateng ke gue dari mana lagi klo bukan dari blog?

Orang-orang yang gak gue kenal di RL nawarin kerjaan ke gue emangnya dari mana lagi selain nyasar dari blog gue?

Daaan... Orang-orang keren yang gue kenal sekarang––dari yang sebelumnya belum pernah gue kenal––dateng dari mana lagi klo selain dari blogging? Gue bilang kerena karena serius keren, no gimmick, enggak bermaksud apa-apa klo lo misalnya nih nyoba bergaul dengan gue dan ternyata belum masuk "circle" pertemanan gue, mungkin lo belum cukup keren :))

Tapi tenang, gue bukan siapa-siapa. Intinya gue cuma berteman dengan orang-orang keren, orang-orang hebat, terserah klo lo bilang gue orangnya milih-milih karena hidup ini memang selalu tentang pilihan, bukan? Naaah klo memang masih ingin berteman dengan gue, dan lo belum masuk ke circle gue, maka dari itu teruslah berusaha agar menjadi hebat & keren!

Karena gue juga gitu. Nah selagi gue belum jadi siapa-siapa nih ya, dan belum terkenal juga, maka bergerak cepatlah dari sekarang. Nanti klo udah seperti diatas takutnya persaingan jadi makin sulit hahaha. Menjadi lebih keren & hebat enggak merugikan siapa-siapa kok, apalagi menguntungkan diri. Melainkan semuanya akan kembali kepada diri sendiri, people don't give a fuck to you unless they did.

Oke sorry out of topic, mari kita lanjut.

Gue menggunakan model bisnis patreon, orang-orang melakukan pertukaran dengan gue. Gue menukar effort, mereka menukar dukungan. Dukungan dalam bentuk selain uang, gue anggep sebagai "dampak". Dampak membuat gue senang, klo uang membuat gue semangat :))

Tapi kesenangan menjadi prioritas bagi gue daripada semangat. Percuma semangat klo tidak senang. Gue bisa merasakan tidak senang ini klo gue ngelakuin sesuatu yang enggak ada dampaknya. Yang mendapatkan dampaknya ya bukan sebatas orang lain, diri gue juga. Untuk apa melakukan sesuatu yang tidak memiliki dampak untuk orang lain terlebih untuk diri gue?

Nah dari model bisnis tersebut, kita fikirkan tentang bagaimana kita bisa membuat mereka memberikan dukungan kepada kita. Berdasarkan hasil pengamatan gue plus dengan ngobrol dengan orang lain, rata-rata orang memberikan dukungan ke gue karena:

  • Cara penulisan gue yang santuy, jelas, dan gak kaku
  • Penjelasan nya yang mendalam
  • Topik yang menarik
  • Bermanfaat untuk mereka
  • Karena sudah kenal gue

Ini salah satu testimoni dari sekian testimoni yang enggak gue minta haha:

Gak bermaksud apa-apa sih cuma biar enggak disangka bullshit aja.

Setiap orang unique, kita memiliki cara kita masing-masing. Daftar diatas adalah feedback yang gue dapet dari orang-orang yang tanpa diminta memberikan feedbacknya atas tulisan-tulisan yang pernah gue publish. Akan gue bahas lebih lanjut tentang ini nanti.

Intinya, setelah kita mengetahui cara untuk membuat orang lain memberikan dukungan kepada kita, harusnya kita sudah tau cara untuk membuat orang lain memberikan dukungan kepada kita dalam bentuk lain :))

Monetize

Klo lo kurang cocok dengan cara patreon, lo tetap bisa memilih cara lain. Misal via menyediakan space iklan, link affiliasi, atau paid promote. Gak usah ngomongin tentang iklan & privasi sama gue, lo pasti sudah tau tanggapannya.

Karena aktifitas blogging (sharing) untuk gue disini pure bukan sebagai sumber penghasilan (alias sebagai passive income), jadi gue memilih "patreon" sebagai cara monetasinya. Biar enggak bingung, intinya gue ingin membuat orang lain "membayar" gue karena dampak, bukan karena postingan.

Untuk apa postingan banyak klo enggak memiliki dampak kepada orang lain? Bukankah kita tidak suka membayar sesuatu untuk sesuatu yang tidak memiliki dampak apa-apa untuk kita, bukan? Klo ternyata memang berdampak kepada diri lo, yaa why not to consider support me financially, right?

Klo belum ada yang mendukung, mungkin usaha gue belum memberikan dampak kepada mereka. But whatever, at least itu memberikan dampak kepada diri gue, bukan? Orang lain hanyalah bonus :))

Dan gue akan terus meningkatkan usaha gue agar bisa lebih berdampak.

Getting Started in Blogging

Kita sudah mulai memasuki topik akhir, gue akan berbagi tentang bagaimana memulai untuk blogging. Semoga lo ingat "disclaimer" yang pernah gue sebut di paragraf-paragraf awal tentang siapa gue.

Langkah pertama untuk memulai blogging yakni.... Mulailah.

Wew klasik, tapi seriusan. Jangan cuma wacana.

Mulai seriuslah, minimal menulis perkenalan diri tentang siapa diri lo & motivasi lo blogging. Intinya sudah mau untuk memulai.

Kedua, pilih topik yang lo sukai. Enggak harus yang lo kuasai, nanti lo bakal belajar banyak dari menulis. Anggap lo tertarik dengan Kubernetes, sedangkan lo enggak menguasai itu. Tapi lo tertarik, dan lo sudah coba-coba dan ingin membagikan pengalaman lo.

Maka, mulai aja. Tentuin judul tentang apa yang ingin lo bagikan tersebut, apakah tentang "perkenalan dengan", "yang saya pelajari dari", "memulai menggunakan", terserah. Dari judul itu secara tidak langsung lo akan membuat outline di otak lo tentang point-point apa aja yang akan lo bahas nanti. Ketika lo menemukan sesuatu yang mungkin kurang familiar/kurang dimengerti sama lo, lo secara tidak langsung akan "memaksa" diri lo untuk mengerti tentang itu.

Ketika lo menemui keadaan dimana lo membahas sesuatu tersebut terlalu rumit, lo––klo gak males––akan mencari cara bagaimana membuatnya menjadi lebih sederhana. Intinya, seperti learning by doing gitu. Dan ya, keuntungan yang didapat juga bukankah lagi kepada di lo lagi, bukan? Dan lo gak akan pernah mendapatkan pelajaran & pengalaman apapun klo lo enggak pernah memulainya.

Ketiga, do it for you. Serius, jangan pernah berfikiran klo lo membuat sesuatu untuk orang lain tapi untuk diri lo sendiri. Karena yang pertama, orang lain enggak butuh tentang itu; Kedua, orang lain enggak ngasih apa-apa sama lo, dan ketiga people don't give a fuck to you. Ini tentang mindset, untuk menghindari pemikiran-pemikiran pecundang seperti:

  • "Hmm kenapa gak ada yang baca tulisan gue?"
  • "Kayaknya orang lain gak suka dengan tulisan gue?"
  • dll yang males banget gue tulis disini

Karena lo berharap sesuatu kepada orang lain, yang padahal orang lain tersebut mungkin sebenernya gak butuh. Ambil contoh pengamen, mereka menyanyi tanpa kita minta. Namun mereka mengharapkan imbalan. Bedakan dengan pengamen yang memang mereka menyanyi untuk mereka sendiri, untuk having fun, imbalan hanyalah bonus.

Kecuali, klo lo melakukan hal itu profesional. Misal, lo memang dibayar untuk menyanyi di kafe. Atau, lo memang dibayar untuk menulis di blog perusahaan. Ketika tidak ada feedback dari orang lain, pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya berlaku meskipun lo sudah dibayar oleh perusahaan.

Untuk menghindari hilangnya pekerjaan :))

Oke gue rasa nomor tiga sudah lumayan jelas, yang keempat adalah pilih topik yang menarik. Karena membosankan itu membosankan, maksud gue lo ngapain sih misalnya ngebahas tentang kenapa batu nisan namanya batu nisan yang memang gak ada menarik-menariknya untuk dibahas gitu. Sesuatu yang menarik tidak selalu keren, kita menyebut sesuatu menarik karena unik. Lo lagi ngopi di kafe, ngeliat 3 cewek. Tapi ada satu yang lo bilang menarik, karena apa? Misal karena dia cantik, atau karena dia pakai kacamata, atau karena dia merokok, dsb. Intinya apa? Beda dari yang lain, bukan? Unik.

Praktisnya misal seperti ini, ada ribuan tulisan tentang "Getting started with Node.js", terus lo membahas tentang itu, alias ngapain anyiiing. Pertama, dari sisi praktis lo bakal kalah di SEO, kedua kemungkinan orang lain sudah tau tentang itu. Ketiga, judulnya membosenkan.

Gimana klo lo coba mengemasnya secara lebih menarik, yang beda dari yang lain. Mencoba melihat dari perspektif yang berbeda, ambil contoh tulisan gue yang lumayan kontroversial: Panduan Murtad dari PHP ke Node.js yang sebenernya cuma pengenalan dengan Node.js aja. Mungkin enggak ada bedanya dengan judul tulisan "Getting started with Node.js" tersebut.

Bedanya gue kemas lebih unik, gue lihat dari sudut pandang yang beda.

Hasilnya, kayaknya pernah gue share deh di twitter. Cek aja ya coba disini.

Bayangkan klo gue buat judulnya dengan "Berkenalan dengan Node.js", response dari pembaca mungkin "hmm udah tau", "yaelah tentang berkenalan aja terus", "pernah baca", dsb. Bukan impostor syndrome, tapi memang udah banyak banget tulisan tentang berkenalan dengan node.js di internet terlebih node.js bukanlah sesuatu yang benar-benar baru.

Oke keempat intinya tentang unik, sekarang yang kelima adalah tentang know your audience. Mungkin ini daftar terakhir, terlebih gue membuat point-point tersebut seberjalan ketika gue ngetik aja. Maksud dari know your audience ini adalah lo menulis untuk siapa. Klo lo menulis untuk diri sendiri pun, lo harus tau tipe membaca lo tuh seperti apa.

Singkatnya, klo lo aja males baca tulisan lo sendiri, apalagi orang lain, kan?

Nah lo cobalah minta feedback dari orang-orang yang pernah berinteraksi di blog lo. Syukur-syukur klo mereka memberi feedback tanpa harus diminta. Bagaimana klo emang gak ada yang baca dan berinteraksi? Atau bagaimana bila kita gak tau siapa aja yang baca? Don't worry, tanya ke diri lo sendiri.

Apa yang lo rasakan ketika membaca tulisan lo? Rumit kah? Terlalu hilang fokus kah? Dsb. Dari situ lo coba improve terus, jangkau lebih banyak pembaca dengan menyebarkannya di media sosial salah satunya. Coba minta orang-orang yang berinteraksi di media sosial tersebut feedbacknya, atau klo enggak lo bisa dengan cara "mepet" ke orang lain. Misal, lo share ke sosmed dengan "caption" Tulisan ini terinspirasi dari mas @blablabla, Tulisan ini menjawab tulisan dari mas @blablabla, tulisan ini tentang tweet dari mas @blablabla, dan sebagainya. Selagi enggak merugikan mereka, mereka pun gue yakin enggak akan keberatan dengan apa yang lo lakuin tersebut.

Just the way you are

Be yourself. Setiap orang unik, dan memiliki caranya masing-masing. Karena sama itu membosankan, dan sekali lagi, membosankan itu membosankan. Tetaplah jadi diri lo sendiri, dan teruslah berlatih. Orang menganggap lo "berubah", karena "perubahan" tersebut mengarah ke yang "negatif". Beda cerita bila perubahan tersebut mengarah ke sesuatu yang "positif", orang lebih menganggap klo lo itu berkembang, bukan berubah.

Mereka akan tetap mengenal diri lo yang dulu, yang jayus klo ngebahas sesuatu namun tetap renyah. Yang membahas sesuatu selalu sangat dalam sampai ke akar-akarnya, yang membahas sesuatu dengan jelas padat dan ringan. Bedanya, lo semakin berkembang. Sesuatu yang jayus namun tetap renyah, menjadi semakin renyah. Sesuatu yang dalam sampai ke akar-akarnya, menjadi lebih dalam. Sesuatu yang hanya jelas padat dan ringan, menjadi lebih jelas lebih padat dan lebih ringan.

Lo berkembang, bukan berubah. Selama sesuatu yang prinsipil dari diri lo tidak berubah, maka lo tidak akan disebut berubah. Aku masih menjadi Fariz yang kamu kenal, bedanya, mungkin kamu mengenal aku dulu orangnya to the point, sekarang lebih to the point :))

Jangan mau diri lo di stir oleh orang lain, apalagi oleh duit. Jangan mau diri lo dibentuk karena orang lain, lo sendiri lah yang seharusnya membentuk diri lo ingin menjadi seperti apa nanti. Just the way you are, seriously you are awesome than others.

Gue kasih tau rahasia kecil gue, klo lo sadar, di dunia maya gue membangun kesan "sombong", dan itu gue jadikan sebagai keunikan diri gue. Wew, di dunia nyata juga deng. Yang penting, menurut gue kesan sombong tersebut tidak merugikan orang lain & tidak menyakiti orang lain. Membangun kesan sombongpun ada takarannya, lo sebagai orang yang gue kenal dari dunia maya tentu beda takarannya dengan teman gue yang udah gue kenal selama 12 tahun. Intinya, setiap orang berbeda-beda, dan jangan sampai melewati koridor batas kewajaran orang lain.

Cara gue adalah membuat orang merasa "sensi" sama gue dalam 10 detik, lalu membuat mereka setuju dengan kesensian gue tersebut 5 menit setelahnya. Misal, gue membuat tulisan tentang "Cara deploy aplikasi Node.js yang baik dan benar", seakan-akan tulisan yang lain itu "kurang baik" dan "kurang benar", kan? Lalu yang gue harapkan setelahnya adalah mereka mencari "celah" untuk mencari letak kesalahan dari topik yang gue bahas, otomatis bakal baca sedetail mungkin, dong?

Dari situ, ketika memang tidak ada celah, yang gue ekspektasikan setelahnya adalah mereka setuju dengan topik yang gue bahas. Berfikiran seperti "hmm bener juga", "waah cara yang baik emang kek gini nih", dsb. Namun ketika terdapat kesalahan, misal bila ternyata terdapat "celah", gue pun enggak rugi juga. Gue dapet sesuatu yang sebelumnya enggak gue ketahui, win-to-win bukan?

Passive Income???

Oke gue rasa gue udah menipu kalian. Tulisan ini adalah 80% tentang blogging, dan 10% tentang passive income. Sisanya cuma ngalor ngidul aja, yakan?

Tapi gapapa, lo sudah membaca sampai baris ini pun gue sangat berterima kasih, thanks for your time. Pada dasarnya gue cuma ingin menyampaikan seperti "yaudah lu cari passive income dari blogging aja", maka dari itu pembahasan dominan nya adalah tentang blogging.


Semoga tulisan ini bermanfaat, salah satu tips yang sering gue tekan-kan dalam blogging adalah jangan pernah menulis draft. Jangan pernah tulisan lo sampai ke draft, kemungkinan membuatnya untuk dipublish hanyalah 20% kecuali lo udah terbiasa menulis draft lalu menerbitkannya. Karena 70% tulisan tersebut hanya akan berada di draft dan 10% akan dihapus. Klo gue kebalik, 70% dihapus 10% cuma nyangkut di draft.

Tentu pernyataan tersebut tidak belaku kepada setiap karena, tapi kan disini gue lagi membahas tentang gue gue dan gue kan?

Sebagai penutup, kamu tidak perlu menunggu untuk menjadi "jago" terlebih dahulu untuk mulai menulis blog. Kasian aja, yang enggak mikir tentang itu mah udah bergerak terlebih dahulu dari lo sedangkan lo masih menunggu. Tertinggal. Semoga enggak terlalu jauh ketinggalannya.

Karena yang bisa dimulai dari tidak bisa, yang bagus dimulai dari tidak bagus, dan seterusnya. Yang menjadi pembeda, mereka berkembang daripada melakukan sesuatu yang sama. Lebih celaka klo mengulang kesalahan yang sama.

Thanks for stopping by and as always, feedback are always welcome either via comment below, messaging platform, or Twitter.

Thank you for paying attention!