Payment Processor

Payment Processor

My thought in Payment Processor, especially for micropayment 3 min read

Minggu ini sedang dihadapkan lagi dengan persoalan pemilihan Payment Processor, terlebih untuk pembayaran di level micro. Mungkin rentang pembayaran sekitar $0.8 (11rb) - $3 (42rb). Sudah pernah mencoba pp di Indonesia, namun tidak sampai ke production. Justru yang diluar, sudah pernah sampai production, seperti Paddle yang klo ga salah dipakai setahun yang lalu.

Paddle

$7.40, lumayan. Atau alternatif lain seperti Braintree, Zoho Checkout, Payment Ninja, dan Yandex Checkout yang menurut gue menjanjikan. Sayangnya, itu semua menggunakan standar mata uang dollar. Cuma itu sih kekurangan yang gue hadapi.

Meskipun pernah menggunakan payment processor di Indonesia seperti Doku yang digunakan di kantor lama gue, tapi gue belum pernah secara langsung berinteraksi dengan Doku. Hanya via API, yang disediakan oleh backend.

Oke, mari kita akhiri per-tele tele ini, parameter-parameter yang gue pilih untuk suatu payment processor adalah:

  • Very developer friendly (has robust and well-written docs API)
  • Pricing. Prefer yang no monthly cost, tapi dengan fee yang rasional per-transaksi
  • Support Rupiah
  • Has (good) sandbox

Mungkin ada beberapa vendor di Indonesia seperti Midtrans, Xendit, Doku, dan iPaymu. Sayangnya, dari 4 vendor tersebut, belum ada yang benar-benar memenuhi kebutuhan gue. Gue jelasin satu-satu ya.

Midtrans

Midtrans dari sisi dokumentasi bagus, API nya juga intuitif. Harga pun masuk akal (2.9% + 2rb/transaksi untuk cc), dan 4rb/transaksi untuk wire transfer. Yang artinya, bila ada seseorang yang ngirim gue 20rb, jumlah yang gue dapet adalah 17,420 IDR, atau 16rb bila dilakukan menggunakan wire transfer via VA.

Udah cocok banget, dong? Pas gue coba, SANDBOX NYA KAGAK STABLE. Kebanyakan masalahnya adalah RTO, gimana gue mau test kan kalau RTO terus? Apalagi ini menyangkut hal yang sensitif: Uang. Meskipun robust, tapi klo tidak reliable yaa mau gimana?

Xendit

Xendit pun tidak kalah bagus dengan Midtrans, dari sisi harga dan dokumentasi (although they use PHP, no problem). Masalah dengan Xendit adalah di target market, sepertinya mereka memang targetnya adalah Perusahaan, bukan Personal. Gue sudah coba API nya, nge-test nya, sandbox nya lumayan, pas mau ke production? Begitulah. Meminta informasi terkait perusahaan, padahal gue hanya seorang pengangguran yang ingin menjadi Indie Senja Developer 🤷‍

Doku

Doku pun hampir sama, meskipun lebih mahal dikit dari yang diatas. Permasalahan dengan Doku lupa sih, mungkin sepertinya di dokumentasi yang enggak se-lengkap sekarang (barusan cek tadi aing). Di halaman FAQ nya, dia bilang:

Q: Apa itu "DOKU MERCHANT"?

DOKU MERCHANT merupakan solusi pembayaran online untuk enterpreneur, start-up, maupun penjual individu yang biasa berjualan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya. Solusi DOKU dapat juga digunakan untuk perusahaan-perusahaan kecil dan menengah sebagai alat pembayaran online yang mudah dan terpercaya.

Berarti, yang harusnya untuk individu seperti gue bisa dong. Mungkin akan gue coba (lagi) setelah ini.

iPaymu

I have no idea since opening this website and knowing their target market is obviously not an individual.


Untuk "Getting started" menggunakan vendor luar sepertinya gampang banget, waktu coba Braintree pun tidak sampai 30 menit, dan itu menggunakan Express. Entah mungkin karena dokumentasinya jelas banget (plus ada tutorialnya), juga karena reliable banget.

Untuk sekarang gue mau coba deh payment processor yang ada di Indonesia, untuk keperluan micropayment. Tulisan ini sengaja dibuat untuk bertukar fikiran yaa siapa tau kan kalian pernah menggunakan nama-nama yang aku sebutkan diatas, berikut pengalamannya juga. Uang memang masalah yang sensitif sih, tapi di zaman yang serba teknologi ini, seharusnya yang paling bertanggung jawab adalah disisi pihak ketiga, sama seperti ketika kita terpaksa mempercayai bank untuk hal-hal yang berkaitan dengan uang.

Dan disini, berarti bank memiliki lapisan lagi diatasnya: Payment Processor. Kalau kita bisa mempercayai bank, mengapa tidak bisa juga mempercayai prosesor? Toh transaksi tidak terjadi ditempat kita, kan? Masalah pengumpulan data pribadi pengguna sih kembali lagi ke kebijakan masing-masing ya. Pertanyaan gue sih sebagai developer (individual): Buat apa? Mending jadiin privasi sebagai fitur, daripada ngejual informasi, ya? Lagian siapa juga yang mau beli informasi dari elu, ha?

Okeoke mandi dulu, jam 10 harus kerja. Kalo ada pengalaman boleh sharing-sharing ya.