Senyummu

Senyummu

That smile 4 min read

Halo.

Sebelumnya gue mau ngasih tau, kalau di 2018 kemarin gue terlalu overthinking masalah relationship. Salahnya gue, overthinking disini mengarah ke negatif. Maksudnya, alih-alih memberikan dampak yang positif, malah sebaliknya. Tapi, mumpung lo sudah membaca sampai kalimat ini, biarkan gue untuk bercerita.

Bercerita tentang seseorang, yang setiap kali gue mengingat senyumnya, gue pasti ketawa. Bahagia.

Karena senyumnya lucu, entah kenapa. Gue baru nemuin senyuman yang seperti itu.

Nama orangnya enggak gue kasih tau, dan gue rasa enggak penting juga klo gue kasih tau. Alasan lainnya, mungkin kalo gue kasih tau, nanti lo bakal ketularan 'kasmaran' nya seperti gue, apalagi kalau udah melihat senyumannya, meskipun sekedar difoto.

Kalau gue sih, melihat langsung pun sudah. hahay.

Oke, jadi orang ini adalah orang pertama yang bisa membuat gue menghampirinya, dan berkenalan dengannya. Tanpa prantara, tanpa basa-basi. Sebelum-sebelumnya, cara berkenalan gue adalah biasanya teman dari teman atau setidaknya pernah ber-interaksi terlebih dahulu di media sosial. Yang ini tidak, man.

Otak gue seperti selalu berkata: Riz, ini kesempatan lo. Lo enggak ngelakuin, lo bakal nyesel seumur hidup. So I did it. Bayangin, ketemu orang yang belum dikenal di somewhere else, memanggil namanya (gue cari tau nama dia, kebetulan kita sedang mengunjungi satu acara yang sama), lalu gue ulurkan tangan gue, dan kita berkenalan.

First impression yang benar-benar tidak bisa dilupakan.

Waktu ke waktu, komunikasi biasa-biasa saja. Jujur, mungkin udah ada yang tau atau belum, bahwa background gue pas sekolah berasal dari suatu sekolah yang mana "Putra" dan "Putri" nya dipisah. Kondisi tersebut berdampak ke cara berkomunikasi gue, khususnya ke orang "diluar" sekolah gue. Gue enggak tau cara berkomunikasi dengan mereka itu seperti apa, gayanya seperti apa, dll. Meskipun sekarang sudah lumayan bisa beradaptasi, tapi tetap terkadang rasa canggung itu selalu muncul. Sederhananya, bayangin lo ngobrol (misal sama orang Kanada), sedangkan lo gak tau cara ngobrol dengan mereka itu seperti apa; Humornya seperti apa, gaya bahasanya seperti apa, dll.

Itu secara verbal, jika secara tekstual? Seperti: interval pembicaraan? Mencari topik? Basa-basi? Dll. Untuk bisa menyesuaikan dengan dia, gue pertama harus tau terlebih dahulu sifat & personalita dia itu seperti apa.

Fortunately, I got it.

Ada satu yang membuat gue ingin memperjuangkan dia, dan salah satu faktornya adalah dari judul tulisan ini. Sengaja gue buat ber-tele tele karena gue yakin bila langsung to the point ini pasti akan singkat banget. Jadi, let's continue my story.

Sebelumnya gue mau ngasih tau kalau gue jarang berkomunikasi dengan dia. Selain karena jarak memisahkan kita, juga gue sudah bingung ingin membahas apa. Lalu, ada asumsi-asumsi yang berkeliaran diotak gue, seperti: Ini gue ganggu gak sih? Dia merasa aware enggak sih klo gue chat? Dll. Biasalah, anak remaja sering overthinking. Tapi gue juga akan selalu berusaha mencari topik pembahasan, apapun itu selama jari gue berani untuk menekan tombol send.

Mari kita ke main topic, karena gue sudah mengantuk.

Pada suatu hari, gue melihat foto yang dia unggah ke salah satu media sosial. Sedang senyum.

Manis banget.

Bikin gue semakin semangat. Semangat apa saja, yang penting positif.

Membuat gue melupakan ke-single-an gue. Membuat gue senang. Membuat gue seakan-akan di "tepuk bahu gue", lalu menyemangati, disaat gue merasa bosen; Jenuh, capek, males. Membuat gue merasa di "jangan sedih dong, senyum" disaat gue merasa sedih. Atau kesepian.

She is spreading very very good vibes.

That changes my day, my life.

Gue jadi semangat kerja, semangat nabung, semangat menyusun mimpi, semangat (ingin) kuliah, semangat apapun itulah yang sekiranya bila dia tau, dia mungkin akan senang. Siapa sih yang tidak senang menjadi salah satu sumber kekuatan untuk seseorang agar bisa berbuat sesuatu yang positif?

Gue rasa, dia juga bakal seneng.

Pokoknya, setiap gue merasa down; Sedih, kesepian, malas, bosan, jenuh, gue akan mengingat senyum itu. Ketika gue senang; Gembira, beruntung, dll pun gue akan mengingat senyum itu. Ingin senang atau sedih, asal menyertaimu. Enggak peduli meskipun itu senyuman bukan untuk gue. Enggak peduli dia sudah ada yang memiliki atau belum. Dan gue enggak peduli meskipun berakhir dengan bertepuk sebelah tangan, kalau bahasa remajanya mah.

Yang gue peduli, I will fight because that smile. I will against this world because that smile.

Dan bila memang apa yang gue khawatirkan terjadi, setidaknya senyuman itu sudah membuat gue bisa bangkit, senang, bahagia, semangat, dll. Gue selalu percaya dengan misteri tuhan, dan kita tidak akan tau bagaimanakah misteri-Nya tersebut. Selagi gue doa dan berusaha, jika tuhan menghendaki, pasti akan terjadi.

Oke, sekarang sudah jam 7 lewat. Terima kasih sudah membaca curhatan ini. Lumayan untuk menambahkan ijo-ijo ke Github gue. Sebenernya ini ingin gue nikmati sendiri saja, tapi entah mengapa otak gue selalu menyuruh gue untuk menuliskannya di markdown, so here it is.

For you--sang pemilik senyum--jaga kesehatan. Gue tau kalau dia tipe orang yang pekerja keras, ulet, dan kuat. Namun, sekuat apapun kita, istirahat (yang cukup) adalah sebuah keharusan. Enggak perlu lah ngingetin makan, tidur, dll, kita sudah berumur lebih dari 20. Kalau laper pasti makan, ngantuk pasti tidur, dan setelah azan, pasti solat. Tapi untuk kesehatan, khususnya untuk kita yang sudah mulai dewasa nih, sering kali dianggap ramah.

Lembur ah, kagok selesain ini. Gampang ah tidur mah, da belum ngantuk. Slooow, sleep is just for a weak. Dll. Lalu kita lupa nikmat sehat seperti apa, sampai ketika 'sakit' itu mulai datang. Iya ya, kenapa gue harus begadang terus sih. Iya ya, capek juga gue tiap minggu bulak-balik antar kota mulu. Iya ya, dingin-dingin gini harusnya menggunakan pakaian yang hangat. Dan lain-lain.

Nikmatnya kesehatan sering kali lupa, karena terasanya ketika sudah kehilangan. Sama seperti nikmatnya terang, sampai kondisi gelap datang. Ketika terang, kita merasa biasa saja seolah tidak menganggapnya ada. Namun bila sudah gelap?

Kita mencari cara, bagaimana agar bisa terang karena berbagai alasan yang kita miliki.

Okeoke, selamat bekerja semuanya. Pagi ini Bandung cerah, biasanya sore juga hujan. Semoga cuaca dikota kalian juga bisa membantu kalian agar tetap produktif. Untuk kamu sang pemilik senyum tersebut, semangat!

Jangan lupa bahagia, semuanya!

Dan ya, blog ini enggak melulu tentang teknikal atuh.