Should I quit Twitter, too?

Should I quit Twitter, too?

No, I don't face any privacy-related issue with Twitter 5 min read

Akhir-akhir sedang rajin-rajinnya gue menghapus akun sosial media tanpa berfikir 3x. Facebook, Whatsapp, Instagram, dsb. Ketiga layanan tersebut adalah dimiliki oleh satu company yang sama: Facebook. Company yang gue kagumi, terlebih disisi teknologi karena sudah membuat: React, ReasonML, Jest, GraphQL, Immutable.js, dan project open source lainnya.

Karena suatu alasan terkait idealisme, gue tinggalkan ke-pragmatis-an gue. Begitupula dengan ketergantungan gue dalam penggunaan teknologi mereka. Sedang mencoba terbiasa untuk tidak menggunakan teknologi mereka.

Dengan Twitter, gue belum menemukan masalah terkait privasi dengan mereka. Justru, di Twitter gue banyak bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang hebat & menarik. Twitter menjadi fokus kedua gue ketika sedang malas menghadapi dunia nyata.

Technology Updates

Entah terkena sindrom FOMO atau bagaimana, menurut gue update seputar teknologi sangat bermanfaat untuk kehidupan gue. React new release, Vue new features, new promising cool digital products, dsb. Meskipun gue tidak ingin capek-capek mencari tentang itu semua, tapi Twitter membuatnya lebih mudah! Thanks to fitur retweet, dan likes.

Pertimbangan gue tentang fokus ini adalah gue bisa mendapatkan informasi yang sekiranya penting dan worth untuk dikonsumsi dari luar Twitter. Blog, Slack group, Link Aggregators, dsb.

Friends Updates

Siapa sih yang tidak bahagia ketika orang lain bahagia? Dan kalian pasti bersimpati ketika melihat teman kalian sedang sedih, atau sedang dilanda masalah, dan lain sebagainya. Begitupula dengan gue. Dengan Twitter, gue bisa mendapatkan informasi "sekilas" tentang update activity yang mereka lakukan: Kesel dengan dospem, marah dengan coworker, galau dengan gebetan, putus dengan pacar, new careers, dsb.

Meskipun gue sedang mengurangi lingkaran pertemanan gue, tapi teman-teman yang gue miliki di Twitter benar-benar membuat pengaruh untuk diri gue dalam keseharian gue. Gue menganggap eksistensi kalian terhadap kontribusi dalam kehidupan gue. I met, know, and interact with others people with just 240 chars. And its meaningful.

Pertimbangan gue tentang fokus ini adalah ada di topik pembahasan tentang Mempersempit Pertemanan.

My Updates

Mungkin ada orang-orang yang sekiranya peduli dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri gue, dan gue membuatnya bisa dikonsumsi oleh publik via Twitter. Tempat yang gue singgahi, buku yang gue baca, artikel yang gue bagikan, dsb. Melihat impresi dari Twitter, sepertinya eksistensi gue di Twitter sedikit bermanfaat untuk dikonsumsi oleh orang-orang di Twitter:

My twitter stats

Itu akun baru gue, belum 1 tahunan. Akun lama gue masih disuspend btw, dan gak niat juga untuk kontak support mereka. I call it: New life.

Pertimbangan gue tentang fokus ini adalah: Gue punya halaman now untuk menjelaskan gue sedang sibuk apa dan gue sedang dimana; ngapain, sama siapa. Untuk membagikan buku apa yang sedang-akan-telah gue baca, bisa dilihat di Goodreads gue. Untuk mengetahui kabar seputar karir gue, gue punya LinkedIn. Bahkan untuk ingin mengetahui link yang gue baca, bisa cek Instapaper. Dan ya, begitupula dengan tulisan yang gue publikasikan, gue punya akun Medium, dan tentunya RSS feed blog ini.

Gue rasa udah rasional ya alasan gue untuk hapus akun Twitter?

Marketing Funnel

Gue yakin Twitter menjadi corong yang pas untuk pemasaran, khususnya seputar personal branding. Gue pernah ditawarkan kerjaan via Twitter, dapet gebetan via Twitter, bahkan pernah mendapatkan uang dari Twitter (1 people pay me for my personal work via Paypal, big thanks I hope you read this!).

Twitter memudahkan menjaring target market dari pemasaran yang kita lakukan. Let's say target audience. Lebih powerful dari word-of-mouth marketing didunia nyata. Lebih efektif dari sekedar marketing via Blog.

Belum ada pertimbangan yang gue dapet untuk fokus ini. Tapi gue pernah merasakan bagaimana powerfulnya kekuatan menulis di blog, mendapatkan beberapa keuntungan yang gue dapatkan juga di Twitter (yang gue tulis di paragraf awal topik ini), dan berkomunikasi dengan orang-orang random yang enggak/belum gue kenal hanya karena mereka telah membaca tulisan gue.

Dengan full marketing via blog, gue sangat bergantung dengan Search Engine. Juga dengan koneksi gue sebelumnya yang memang benar-benar menjalin hubungan serius dengan gue dalam bentuk pertemanan maupun profesional. Gue suka dengan eksperimen, apalagi untuk eksperimen gagal. Mungkin pertimbangan gue untuk ini adalah "Mencoba sesuatu baru agar mendapatkan pengalaman dan hasil baru", dalam konteks personal brand marketing.

Twitter is the best place for sharing my short thought

Ingin membagikan pemikiran singkat tentang kapitalisme? Politik? Tips trik didunia programming? Twitter merupakan tempat yang sempurna! Dan memang penggunaan inti gue terhadap Twitter adalah itu. Terus gue mikir: "Penting gak sih?", "Layak gak sih dikonsumsi publik?", "Kenapa orang lain harus peduli?", dsb. Sedikit overthinking, karena itu gue.

Lalu kepikiran: Bukankah di blog juga bisa, ya? Lalu disangkal: Di blog ribet. Pilihannya: Membuat tools untuk menyelesaikan masalah "ribet" tersebut, atau berhenti membagikan short thought gue (so I can focus sharing about my long thought via blog?).

Pertimbangan seputar fokus ini adalah ada di paragraf sebelum ini.

Become loneliness

Hadeeh pasti tulisan ini bakal lebih dari 7 menit. Bodo amat lah ya.

Dengan tidak menggunakan Twitter, berarti tidak ada media sosial yang gue gunakan lagi selain LinkedIn yang jarang banget gue buka. Kalau ada informasi lumayan penting aja gue buka LinkedIn. Yang berarti, gue harus siap menghadapi kesendirian gue didunia maya.

Pertimbangan seputar fokus ini adalah: Hidup lebih banyak didunia nyata. Meskipun udah gue lakukan, tapi tetap gue kadang merasakan kesendirian pada waktu-waktu tertentu yang biasanya gue lampiaskan dengan membuka sosial media. Hipotesisnya adalah dengan mencari kesibukan yang lebih banyak didunia nyata. Sayangnya, kesibukan didunia nyata tidak semurah yang bisa dibayar didunia maya (we only pay for bandwith, right?). Tapi mungkin akan gue pertimbangkan lagi seputar ini.

How about my friendship?

Gue senang berkomunikasi dengan orang baru. Dan cuma dari Twitter gue bisa berkomunikasi dengan orang lain yang belum gue kenal, dan dari orang lain yang cuma gue kenal di internet. Mungkin gue pernah melakukannya juga di Facebook, tapi tidak seintens di Twitter.

Dengan menghapus akun Twitter, berarti gue harus siap mempersempit kemungkinan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pertimbangan seputar fokus ini adalah: Hanya via blog. Gue hanya bisa berkomunikasi dengan orang baru, yang sumber motivasinya mereka dapat dari tulisan yang gue publish di blog. Atau juga bisa dari teman dari teman gue, whatever lah.

But seriously riz, why?

Gue rasa, 60% kehidupan gue, ada di Twitter. Ngantri di indiemaret, pas jalan-jalan diperkotaan, pas kerja, pas ngampus, dsb. Meskipun tidak menghabis waktu yang banyak, tapi Twitter membuat perhatian gue bertambah. Khususnya dalam pengkhawatiran.

Entah khawatir karena/untuk apa/siapa. Intinya gue khawatir.

Dan itu menggangu.


Apakah gue akan hapus akun Twitter?

Enggak tau, lihat saja dalam seminggu. Kalau akun @108kbps udah enggak ada, berarti yaa kalian sudah tau jawabannya kan. Akan gue coba dulu dengan tutup akun sementara, kalau gabisa ya berarti langsung gue delete. Tapi gue akan buat akun bot di Twitter untuk keperluan testing oAuth dsb.

Jadi, kita sudah tidak bisa berkomunikasi lagi nih?

Harusnya masih bisa, sih. Telegram, Medium, LinkedIn, komentar blog, atau email. Yang gak bisa adalah gue menemukan orang baru untuk berkomunikasi, entah apakah gue bisa mengobservasi orang lain terhadap misi yang sedang gue lakukan ini tanpa Twitter bisa dilakukan atau tidak.

Ternyata gak bisa temporary delete akun. Berarti: Oke deh.

Sosial Media apa yang gue gunakan?

Itu dia, gue gak pakai sosial media apa-apa. Paling Github, tapi Github adalah Social Coding, bukan Media. Ketika gue delete FB, WA, IG tidak ada dampak apa-apa juga tuh untuk gue dan orang lain, harusnya Twitter juga gitu.

Mungkin gue akan bersosial via blog aja kali ya. Membaca-baca blog orang lain, memberikan komentar, atau mengkontaknya via akun-yang-gue-juga-punya bila memang dirasa perlu dilakukan.

Oke gitu aja ya.