Tentang sebuah pencarian

Tentang sebuah pencarian

Yang saya pelajari dari sebuah Pencarian 8 min read

Mumpung sedang di sbux malioboro, jadi gue coba sempatkan menulis sebelum lupa.

Siapa yang pernah mencari seseorang yang bahkan namanya saja kalian tidak tau? Siapa yang pernah menunggu seseorang yang bahkan kedatangannya saja kita tidak pernah tau apakah akan datang atau tidak?

I did.

Ini hari ketiga gue berada di Jalan Malioboro melakukan 2 pertanyaan diatas tersebut.

Tulisan ini bukan hanya tentang seputar perasaan, apalagi hanya sebuah dalih untuk mengemas cerita ini dengan lebih elegant. Namun murni sebuah pelajaran tentang hidup yang gue pelajari, dari sebuah pencarian.

Siapa

Gue mencari seseorang, gak tau namanya siapa. Tapi gue tau dari ciri-cirinya seperti apa sampai jenis tas yang dipinggul, jaket yang dikenakan, dan sepatu yang digunakan. Bahkan, sampai wajah orang tua, adik, berikut kakaknya juga.

Pernah kah kamu merasakan hal seperti gue diatas? Gue yakin gak pernah, dalam konteks seperti gue. Dalam konteks lain, mungkin pernah.

Seperti, mencari jati diri.

"Ingin jadi apakah gue nanti?"

Lo gak tau "nanti" lo akan menjadi apa, menjadi seperti apa. Tapi lo "sudah tau" beberapa kriteria seputar diri lo, misal:

  • Senang keindahan
  • Peduli dengan orang
  • Senang ber-eksplorasi
  • Senang dengan menyelesaikan masalah

Dari kriteria diatas, mungkin lo bisa mengambil kesimpulan seperti "Hmm kayaknya gue cocok jadi Frontend Engineer deh" yang bahkan mungkin lo belum tau pekerjaan seorang Frontend Engineer itu seperti apa, tanggung jawabnya apa, dsb.

Tapi secara "high-level" nya, lo sudah tau.

Tentang UI (keindahan), tentang UX (user), tentang eksplorasi (engineering), dan tentang menyelesaikan masalah (problem solving).

Berkat kriteria-kriteria yang lo miliki tersebut, lo mencoba "mem-push" diri lo untuk mencari "kebenaran" tentang apakah diri lo cocok menjadi seorang Frontend Engineer?" atau tidak? Dan lo enggak akan pernah tau jawabannya kalau lo enggak terus mem-push diri lo.

Entah sampai "sukses" menjadi seorang Frontend Engineer, atau "gagal".

Fokus

Ada ribuan orang lebih di Jalan Malioboro, terlebih ini weekend dan sore. Dari ribuan orang yang berlalu-lalang, gue hanya mencari satu sosok yang sesuai dengan kriteria yang sudah gue miliki. Enggak peduli apakah yang gue lihat lebih menarik––dan lebih cantik––ataupun lebih lucuk.

Jika bukan sosok yang gue cari, so fuck off.

Hampir sama ketika lo sedang mencari jati diri lo juga. Ada banyak "alternatif" lain yang mungkin membuat lo kepincut dengan itu. Sedang ingin menjadi Frontend, tiba-tiba tertarik menjadi Backend Engineer karena Golang & Rust. Sedang ingin menjadi Frontend, tiba-tiba tertarik dengan DevOps karena sedang hype.

Dari sini perjalanan lo akan diuji, dari rencana yang ingin menemukan satu sosok yang ada dipikiran gue, malah terganggu oleh sosok-sosok lain yang mungkin lebih menarik. Tapi gue lebih memilih untuk tetap berada di jalan gue, meskipun rasio gue menemukan orang tersebut 1 banding ribuan orang di Jalan Malioboro.

Jenuh

Ketika lo sudah masuk ke fase pencarian-yang-tak-berujung, lo akan merasa jenuh. Sindrom impostor akan mulai menyerang lo. Pertanyaan-pertanyaan seperti "Kayaknya gue gak bisa deh nemuin dia", "Kayaknya gue enggak bisa deh jadi Frontend Engineer", "Kayaknya gue enggak cocok deh jadi Programmer" dan berbagai "Kayaknya" lainnya akan menyelimuti otak lo.

Karena lo lelah, dengan kenyataan yang tak sesuai dengan harapan.

Gue bukan tipe orang yang mudah menyerah, sampai mendapat jawaban kapan gue harus pasrah. Bahkan perasaan gue 3 tahun yang lalu pun masih sama sampai hari ini, time flies fast but my soul is still fucking in here.

Ketika berada dikondisi ini, cobalah beristirahat. Gue dapet pelajaran di kantor gue sebelumnya tentang ini dari sebuah kutipan yang meskipun gue anti banget dengan kata-kata motivasi:

"If you get tired, learn to get rest. Not to quit."

Dan itu bener banget bro. Serius, gue pernah merasakan ini yang gue jadikan pelajaran paling berharga dalam hidup gue. Ketika gue lelah dengan kerjaan gue, dan jenuh dengan kondisi yang menurut gue kurang menantang, gue memilih resign.

Bukan memilih untuk merubah keadaan yang ada seperti yang biasa gue lakukan.

Jadi, beristirahatlah sejenak.

Dan jangan buat keputusan ketika sedang lelah.

Never.

Trust me.

Sudah 4x gue menentukan keputusan ketika lelah, dan bahkan sampai hari ini gue masih menyesalinya.

Termasuk perihal dalam setiap alasan gue pergi ke Yogyakarta, untuk membayar penyesalan tersebut :))

Palsu

Pencarian pun dilanjutkan, rasa jenuh dan lelah sedikit terobati dengan istirahat sejenak.

Jika sebelumnya otak kita seolah memberikan sinyal bahwa "Kayaknya enggak deh", sekarang berbeda. "Kayaknya udah deh".

Palsu lebih jahat daripada salah.

Lo terus berusaha untuk menjadi seorang Frontend Engineer, lalu sampai ke titik bahwasannya "Kayaknya gue udah cocok menjadi seorang Frontend Engineer deh". Lo udah tau tentang fundamental programming & javascript, algoritma, the coolest frontend tech stacks, dsb.

Karena sudah "merasa jadi", lo berhenti. Berhenti belajar tentang itu, berhenti bereksplorasi tentang itu, dsb. Karena, well, so what?

Seperti, lo ingin menjadi seorang Sarjana. Terus, lo udah mendapatkannya. Yaudah, terus mau apalagi, gitu?

Padahal menjadi Sarjana bukan hanya tentang lulus dari sebuah kampus. Ada tanggung jawab dibalik kata Sarjana tersebut. Ada sebuah mimpi yang diharapkan terhadap seseorang yang memiliki gelar Sarjana tersebut.

Ketika lo memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan, lo harusnya sadar bahwa perjalanan tidak akan pernah berakhir.

Sampai kamu memutuskan untuk pulang.

Sebagai pemenang, ataupun pecundang.


Begini,

Tidak semua yang kita harapkan bisa tercapai. Semesta tidak berjalan seperti itu.

Setiap orang yang membuat rencana, harusnya memiliki rencana lain sebagai alternatif.

Atau, sebagai ehm, pelarian.

Lo ke Jogja, misal ingin ke Kilometer 0. Lalu rencana lo gagal. Mungkin karena hujan, atau misal karena jalan Kilometer 0 sedang tidak boleh diakses.

Bayangkan ketika lo tidak memiliki rencana lain, apa yang lo lakukan selain menikmati penyesalan bahwasannya lo enggak bisa ke Kilometer 0? Yang bahkan meskipun lo memaksa untuk pergi kesana pun, lo enggak dapat apa-apa. Misalnya jalan nya benar-benar ditutup, dan gak ada yang bisa lo liat kecuali seng-seng besar.

Mendingan, lo jalani rencana lain. Misal, pergi ke Tebing Brexit. Sebagai pelarian misalnya.

Kita akan mengenal tentang "ambang batas" atau mungkin di programming lebih kita lebih familiar dengan yang namanya threshold. Sesempurna sistem yang sudah kita rancang, kita tetap memiliki rencana lain ketika ambang batas tersebut sudah/akan terlewati.

Misal, kita melakukan request ke server. Timeout 1 menit, ketika timeout tersebut akan terlewat, misal kita kasih kesempatan sekali lagi untuk melakukan request karena memang request tersebut krusial. Gak mungkin kan kita melakukan request terus menerus yang sudah jelas-jelas server tidak memberikan response, disinilah threshold tersebut berperan.

Misal, setelah 3x request server dan tidak mendapatkan response, yaudah lah ya. Kasih error ke user, atau apalah itu terserah. Mungkin service nya sedang down, mungkin service nya sudah pindah (alias deprecated), dsb.

Mungkin gebetan lo udah tunangan misal dengan kondisi threshold = tunangan.

Berjuang & idealis boleh, goblok jangan. Fikirkan tentang "dampak" yang terjadi terhadap apa yang lo lakukan tersebut.

Masih ingin memperjuangkan tanpa memikirkan dampak yang terjadi terhadap diri sendiri (dan orang lain)?

My way

Gue dulu pernah ingin menjadi seorang Software Engineer, yang bukan "cuma" ngurusin Frontend ataupun "cuma" Backend. Gue merasa gagal, belum memiliki pengalaman yang cukup untuk menjadi seorang Software Engineer. Tapi, gue punya rencana B, menjadi seorang Frontend Engineer. Yang mana salah satu bagian dari Software Engineering.

Gue sadar waktu itu, gak akan ada yang mau membayar gue untuk "meng-engineering" software. Daripada menikmati sebuah penyesalan, gue memilih alternatif lain. Dan sampailah ke kesempatan bahwasannya gue bisa menjadi seorang Software Engineer, so here I am. Seseorang yang bukan cuma ngurus praktikal frontend & backend, dan dibayar untuk itu :))

Melanjutkan menjadi seorang Frontend Engineer ataupun berpaling adalah pilihan masing-masing. Pilihan gue, karena gue dulu pernah memiliki keinginan untuk menjadi seorang Software Engineer, gue memilih untuk kembali. Gue selalu percaya bahwa "klo bukan sekarang, mungkin nanti".

Yang pastinya, gue memiliki "threshold" untuk parameter "sekarang" dan "nanti" nya.

Quit

Satu-satunya cara untuk keluar dari sebuah perjalanan adalah berhenti.

Capek hidup? Mati.

Capek beraktifitas? Tidur.

Capek kerja? Resign.

Tapi sekali lagi, setiap perjalanan tidak memiliki garis akhir sekalipun itu berhenti. Jika membahas secara fundamental, hidup ini sebuah perjalanan. Bahkan dengan mati pun lo bukan berhenti, ada kehidupan lain yang menunggu diluar sana.

Yang akan mempertanggung jawabkan pilihan lo tersebut.

Batas pengetahuan gue tentang ini mungkin hanya sampai "Neraka" dan "Surga". Bahkan gue enggak pernah tau kehidupan "selanjutnya" setelah kita di neraka ataupun di surga. Terserah bila lo tidak mempercayai konsep neraka ataupun surga, tapi gue yakin lo pasti percaya dengan "Kehidupan tidak akan pernah berakhir".

Dan ya, kehidupan adalah sebuah perjalanan. Dan sekali lagi, tidak akan pernah memiliki garis akhir.

Yang maksudnya, daripada berhenti, mendingan terus berjalan. Banyak jalan yang bisa lo lewati, gak hanya satu. Toh kita juga gak tau akhirnya akan gimana, bukan? Daripada "akhir" kita dibentuk oleh sesuatu yang tidak terencana, mending kita sendiri yang membentuknya.


Dalam konteks ini, gue memilih untuk terus mencari tau "siapa dia" sampai threshold yang hanya gue dan tuhan yang tau. Dan ya, banyak jalan lain yang bisa gue lalui daripada hanya terus mengikuti jalan ini. Ketika sampai ke suatu kesempatan dimana gue bertemu dengan dia lagi, gue enggak akan pernah menyiayiakan kesempatan tersebut. Jika memungkinkan.

Sama seperti ketika dapet kesempatan untuk menjadi seorang Software Engineer lagi. Setiap orang memiliki sifat berbeda-beda, gue salah satu orang yang berifikiran bahwasannya yang berlalu biarlah berlalu. Selagi belum berlalu, alias belum pernah tercapai, gue gak akan mem-biarlah-kan nya.

Pencapaian-pencapaian yang sudah didapat bukanlah tujuan akhir, melainkan hanyalah sebuah batu loncatan. Jika lo misalnya "hanya" bercita-cita ingin menjadi Presiden, ketika lo menjadi presiden, so what? Ketika cita-cita lo ingin mengubah suatu negara, dan menjadi presiden adalah salah satu caranya, tidak akan ada pertanyaan "So what?" setelah lo menjadi presiden.

Jika sudah merubah suatu negara?

Selagi sudah "tercapai" berdasarkan ambang batas yang sudah lo tentukan, semuanya balik lagi ke lo.

Banyak cara untuk merubah suatu negara, tidak hanya dengan cara menjadi seorang Presiden. Banyak cara untuk menjadi "seseorang", tidak hanya melewati satu jalan. Banyak jalan menuju roma, meskipun lo sudah bisa melewati Roma, kembali lagi ke diri lo apakah lo ingin balik lagi ke keinginan lo ingin ke Roma, atau tidak.

Here we go

Mau balik lagi ke Jalan Malioboro, mencari sosok tersebut. Ambang batas di Jalan Malioboro sampai jam 10, dan ambang batas di Jogja sampai besok siang. Jika sudah melewati 2 hal tersebut, life still must goes on. Balik lagi ke Bandung menjalani kehidupan seperti biasa, dengan tambahan pikiran yang tidak biasa.

Gue selalu gagal dalam move on, dalam konteks bila gue belum mencapai apa yang gue perjuangkan tersebut. Dan pribadi gue adalah selalu memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan tersebut, sampai tercapai. Meskipun dalam bentuk yang berbeda. Yang dalam konteks ini, bila gue enggak bisa mencapai apa yang gue perjuangkan tersebut, setidaknya gue harus bisa mencapai "sesuatu" yang hampir serupa dengan itu.

Seperti menjadi Frontend Engineer daripada menjadi Software Engineer.

Seperti membuat kehidupan menjadi lebih baik, yang mana ini adalah alasan utama mengapa gue ingin menjadi seorang Software Engineer.

Seperti mengejar orang ini daripada mengejar seseorang yang serupa dengan dia (oh what the fuck).

Seperti mengejar orang yang serupa dengan dia, yang mana ini adalah alasan utama mengapa gue mengejar orang tersebut.

Thanks for stopping by, life must goes on and will never has ends.

Selamat mencari––baik itu Jati diri, Seseorang, ataupun Garis akhir!